Rupiah Diharapkan Bertahan di Sisa Tahun Perdagangan 2018

Fetry Wuryasti
23/12/2018 16:27
Rupiah Diharapkan Bertahan di Sisa Tahun Perdagangan 2018
(ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

ADANYA rilis Bank Indonesia dimana suku bunga kebijakan BI 7 Day Reverse Repo Rate tetap dipertahankan pada level 6% dan adanya kenaikan terhadap suku bunga The Fed membuat rupiah cenderung berbalik melemah dibandingkan sebelumnya.

Adapun, nilai tukar rupiah pekan lalu terdepresiasi 1,05% dari sebelumnya naik 0,42%. Di pekan kemarin, laju rupiah sempat melemah ke level 14.625 atau di atas sebelumnya di level 14.650.

Sementara level tertinggi yang dicapai di angka 14.340 atau di atas sebelumnya di angka 14.465. Laju rupiah di pekan kemarin bergerak di bawah target support 14.540 dan di atas resisten 14.525.

Baca juga: Perbankan Terapkan Operasional Terbatas Selama Libur Natal dan Tahun Baru

"Adanya sentimen negatif dari rilis defisit neraca perdagangan membuat laju rupiah kembali melemah. Pelaku pasar juga mengantisipasi akan adanya pertemuan The Fed dan masih adanya imbas perlambatan ekonomi di Tiongkok yang berakibat terdepresiasinya CNY hingga masih adanya ketidakpastian kondisi di Uni Eropa sehingga mengakibatkan kembali terapresiasinya dolar AS," ujar analis Asosiasi Analis Efek Indonesia Reza Priyambada, Minggu (23/12).

Pelemahan dolar AS sendiri terjadi seiring sikap skeptis terhadap kondisi ekonomi AS yang dinilai mengarah ke resesi akibat masih adanya imbas perang dagang dengan Tiongkok  yang diikuti nada dovish oleh The Fed dan belum usainya perseteruan antara Presiden Trump dan The Fed terkait kenaikan suku bunga The Fed.

"Pergerakan rupiah masih dalam trennya dimana menuju melanjutkan pelemahannya jelang akhir tahun. Diharapkan di sisa hari perdagangan, pergerakan rupiah masih bertahan seiring masih adanya penilaian negatif terhadap ekonomi AS," tandasnya.

Adanya pelemahan dolar AS sebelumnya tampaknya tidak dapat dimanfaatkan rupiah. Bank Sentral AS The Fed menaikan suku bunga acuannya sebesar 25 bps ke kisaran 2,25%-2,50%.

Mereka juga memproyeksikan dua kali penaikan suku bunga pada 2019 dan satu kali penaikan pada 2020. Pada saat yang bersamaan pelaku pasar melihat adanya potensi pelemahan pada ekonomi AS seiring masih adanya imbas perang dagang dan ditambah dengans sentimen shutdown pemerintahan AS.

Sentimen membuat dolar AS melemah. Akan tetapi, pelaku pasar terlalu bereaksi berlebihan atas rilis The Fed tersebut. Apalagi, tingkat imbal hasil obligasi AS tenor pendek cenderung meningkat dan suku bunga acuan BI juga tetap sehingga akhirnya berimbas pada pergerakan Rupiah.

"Di perkirakan rupiah akan bergerak di kisaran 14.556-14.540," tukas Reza. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya