Freeport Fokus ke Underground Tahun Depan

Cahya Mulyana
23/12/2018 10:45
Freeport Fokus ke Underground Tahun Depan
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

PASCADIVESTASI 51% saham PT Freeport Indonesia (PTFI) oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (persero) atau Inalum, manajemen berencana menutup kegiatan tambang terbuka pada akhir tahun ini.

Selanjutnya, perusahaan tambang terbesar itu fokus menggarap tambang bawah tanah mulai 2019 dengan nilai investasi US$14 miliar sampai 2041.

Demikian pernyataan Dirut PTFI Clayton Allen Wenas atau Tony Wenas pada konferensi pers di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Jumat (21/12).

"Pada akhir tahun ini (pertambangan) open pit selesai. Mulai tahun depan kami fokus ke (pertambangan) underground. Produksi akan berkurang pada 2019 karena penutupan tambang terbuka. Sementara tambang bawah tanah masih berupa kontruksi. Tetapi seiring pengerjaan tambang bawah tanah, produksi naik mulai 2020 dan seterusnya. Saya lupa angkanya. Ke depan, ada tambahan dana US$14 miliar sampai 2041," kata Tony Wenas.

Untuk operasional tambang, PT Inalum menyerahkan kepada ahli-ahli dari Freeport McMoRan Inc seperti sebelumnya. Meskipun demikian, Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin menyatakan tidak berarti PTFI menjadi operator selamanya. Inalum membuka peluang ahli-ahli domestik menjadi operator tambang di Papua tersebut.

"Ini tambang terumit di dunia. Pak Tony Wenas dan Pak Richard sudah menggali 300 km dan akan tambah lagi. Saya yakin Indonesia bisa. Ini kesempatan besar bagi putra Indonesia belajar," ujar Budi.

Pengesahan divestasi 51% saham Freeport ditandai dengan pelunasan transaksi senilai US$3,85 miliar atau setara Rp55,8 triliun oleh Inalum kepada Freeport McMoRan selaku pemilik. Selanjutnya, pemerintah memberikan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) sebagai pengganti kontrak karya (KK) kepada PTFI untuk periode 2021-2031.

Kedaulatan
Dalam menanggapi tuntasnya divestasi saham Freeport, peneliti Alpha Research Database Ferdy Hasiman menilai upaya pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla itu patut mendapat apresiasi.

"Tidak gampang meyakinkan Freeport mengubah KK menjadi IUPK. Mereka sangat nyaman dengan KK. Sebelumnya, pemerintahan SBY hanya sebatas berunding dan tidak pernah mencapai kata sepakat dengan Freeport. Divestasi Freeport sesungguhnya ialah ujian kedaulatan negara. Pemerintah sekarang menunjukkan kedaulatan itu," ungkap Ferdy.

Senada dengan Ferdy, Ketua MK periode 2008-2013 Mahfud MD melalui akun Twitter-nya menulis '(Freeport-8) Stlh keluar UU No. 4 Thn 2009 Freeport msh ngotot ingin mempertahankan posisi kontraknya. Pemerintahan SBY sdh melakukan upaya2 tp gagal, selalu diancam akan diarbitasikan.

Awalnya Pemerintahan Jkw pun kesulitan jg, tp akhirnya bs selesai: 51% saham kita miliki'.
Ferdy melanjutkan divestasi saham Freeport sangat menguntungkan Indonesia. Pertama, Indonesia lebih untung dari sisi finansial. Pasalnya, Inalum sudah membeli 40% participating interest Rio Tinto di tambang Grasberg.

"Selama ini, Rio Tinto berinvestasi besar di Grasberg. Sebagai imbalannya mereka mendapat atau mengontrol 60% produksi Grasberg mulai 2021. Dengan begitu, otomatis Inalum mengontrol 60% produksi tembaga dan emas Grasberg ke depan. Setelah berproduksinya tambang underground, kapasitas produksi Freeport meningkat. Rata-rata produksi harian mencapai 24.000 metrik ton tembaga. Mulai tahun depan, pendapatan Freeport bisa di atas US$3 miliar per tahun," tandas Ferdy. (Nur/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya