KESIGAPAN pemerintah, baik pusat maupun daerah, dalam mengamankan pasokan dan stok kebutuhan pokok masyarakat berhasil memperlambat laju inflasi selama Maret.
Setelah pada Januari dan Februari terjadi deflasi, lonjakan harga menyusul penaikan harga bensin premium dari Rp6.600 menjadi Rp6.800 dan gas elpiji ukuran 12 kg sebesar Rp5.000 di awal Maret memang tidak bisa dihindari.
Namun, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) berhasil mengendalikan harga agar tidak liar kenaikannya, termasuk kenaikan harga beras akibat berkurangnya pasokan dan belum masuk panen raya.
Badan Pusat Statistik (BPS) pun mencatat inflasi Maret hanya 0,17%. Bahkan di luar Pulau Jawa dan Sumatra ada 11 kota yang deflasi dan 22 kota inflasi.
Kota Manokwari tercatat memiliki inflasi tertinggi sebesar 0,84% dan Padang terendah mencapai 0,11%. Kota tertinggi yang mengalami deflasi sendiri tercatat di Tanjung Pandan 1,79%.
"Artinya di Jawa sedikit yang deflasi, ini karena pengendalian harga sudah menyebar ke daerah dengan adanya TPID," ujar Ke pala BPS Suryamin di Jakarta, kemarin. BPS memaparkan penaikan harga BBM menjadi pemicu utama terjadinya inflasi Maret.
Dampak beruntun dari penaikan harga BBM ini tidak hanya terjadi di sektor transportasi dan makanan jadi, tetapi juga kenaikan upah buruh.
Inflasi Maret bisa terjaga lantaran di sektor komoditas sayuran seperti ikan segar, daging ayam ras, sayur-sayuran, buah-buahan, cabai merah, dan rawit menurun saat harga beras meningkat.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan dengan dimulainya panen raya pada awal April ini diharapkan bisa menahan laju inflasi di tengah fluktuasi harga BBM seperti yang telah diatur pemerintah.
"Gejolak di masyarakat sendiri lebih karena masyarakat belum terbiasa dengan penaikan dan penurunan harga BBM," ujar Sofyan yang ditemui terpisah, kemarin.
Inflasi April Melihat kondisi saat ini, Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo memperkirakan inflasi April berada di bawah 0,5%. "Karena April panen raya beras. Jadi mudah-mudahan bisa di bawah 0,5% juga," ujarnya.
BPS juga mencermati gejolak kurs rupiah yang akan memengaruhi inflasi inti. Apalagi, inflasi inti selama tiga bulan terus mengalami kenaikan.
"Bulan lalu 4,96% sekarang 5,04% jadi harus hati-hati, BI masih harus ekstra keras mengendalikan komponen makroekonomi, terutama valas dan BI rate," jelas Sasmito.
Kepala Ekonom Samuel Asset Management (SAM) Lana Soelistianingsih mengingatkan pemerintah perlu menjaga harga BBM, terutama premium tidak lebih Rp8.500 per liter untuk mencapai target inflasi 4 plus minus 1.
Jika pemerintah bisa menjaganya, Lana memperkirakan inflasi ke depan tidak akan lebih 0,2%. "Saya kira sampai akhir tahun masih ada penguatan 6,38% year on year," ujarnya. (X-10)