Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI P2E LIPI Maxensius Tri Sambodo mengatakan bahwa gejolak ekonomi global akan terus berlangsung hingga tahun depan. Hal itu disampaikannya saat menanggapi kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan oleh Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat.
"Kalau The Fed naik, pasti Rupiah akan gonjang-ganjing dan berdampak ke defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) . Mungkin perlu waktu dan kerja keras untuk menangani CAD, tapi bagaimana pemerintah bisa mendisiplinkan fiskal, defisitnya dijaga baik," katanya saat ditemui di Hotel Century Park, Jakarta, Kamis (20/12).
Baca juga: BI Tahan Suku Bunga Acuan 6%
Adapun, langkah untuk menekan semakin lebarnya CAD tersebut, menurutnya, pemerintah perlu menunda proyek-proyek yang akan menghabiskan anggaran negara. Selain itu, pemerintah juga harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait harga bahan bakar minyak.
Sebelumnya diberitakan, Federal Reserve (iFed) atau Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan untuk keempat kalinya tahun ini. Pada Rabu (19/12) waktu setempat, The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps). Kenaikan tersebut terjadi meskipun Presiden AS Donald Trump berulang kali menolak kenaikan suku bunga acuan.
Menyikapi kenaikan suku bunga oleh The Fed, Maxensius pun memprediksi BI juga akan menaikkan suku bunga. Hal itu dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mengendalikan harga.
"Kalau The Fed naik, kondisi perang dagang makin kencang, kita susah ekspornya, ancaman defisit neraca perdagangan, kita harus mainkan suku bunga untuk meredam konsumsi domestik," katanya.
Jika BI menaikkan suku bunga, dikatakannya, itu kemudian akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun mendatang. "Pertumbuhan bisa terkoreksi karena kenaikan suku bunga," tandasnya. (OL-6)
Suku Bunga The Fed Naik, Pemerintah Diminta Kendalikan Fiskal
PENELITI P2E LIPI Maxensius Tri Sambodo mengatakan bahwa gejolak ekonomi global akan terus berlangsung hingga tahun depan. Hal itu disampaikannya saat menanggapi kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan oleh Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat.
"Kalau The Fed naik, pasti Rupiah akan gonjang-ganjing dan berdampak ke defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) . Mungkin perlu waktu dan kerja keras untuk menangani CAD, tapi bagaimana pemerintah bisa mendisiplinkan fiskal, defisitnya dijaga baik," katanya saat ditemui di Hotel Century Park, Jakarta, Kamis (20/12).
Adapun, langkah untuk menekan semakin lebarnya CAD tersebut, menurutnya, pemerintah perlu menunda proyek-proyek yang akan menghabiskan anggaran negara. Selain itu, pemerintah juga harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait harga bahan bakar minyak.
Sebelumnya diberitakan, Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan untuk keempat kalinya tahun ini. Pada Rabu (19/12) waktu setempat, The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps). Kenaikan tersebut terjadi meskipun Presiden AS Donald Trump berulang kali menolak kenaikan suku bunga acuan.
Menyikapi kenaikan suku bunga oleh The Fed, Maxensius pun memprediksi BI juga akan menaikkan suku bunga. Hal itu dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mengendalikan harga.
"Kalau The Fed naik, kondisi perang dagang makin kencang, kita susah ekspornya, ancaman defisit neraca perdagangan, kita harus mainkan suku bunga untuk meredam konsumsi domestik," katanya.
Jika BI menaikkan suku bunga, dikatakannya, itu kemudian akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun mendatang. "Pertumbuhan bisa terkoreksi karena kenaikan suku bunga," tandasnya. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved