OJK Optimistis Kredit Tetap Tumbuh 12%-13%

Fetry Wuryasti
20/12/2018 04:05
OJK Optimistis Kredit Tetap Tumbuh 12%-13%
( ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit pada November 2018 berada pada kisaran 12,05%. Angka itu lebih rendah ketimbang periode Oktober 2018 yang berada pada kisaran 13,3%.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso me­nyam­paikan hal itu terjadi karena nilai tukar rupiah yang kembali menguat pascakoreksi yang cukup dalam.

“Tingginya kredit pada Oktober karena dampak nilai tukar. Pada Oktober, nilai dolar AS menguat. Saat kredit valuta asing (valas) didenominasikan ke rupiah, yakni saat kurs ada di 15.000 per dolar AS, maka kredit pun jadi cukup tinggi,” terang Wimboh dalam jumpa pers tutup tahun OJK di Jakarta, kemarin.

Selanjutnya, kurs rupiah yang kembali menguat di le­vel 14.000-an per dolar AS pada November membuat pertumbuhan kredit menjadi ekuivalen lebih rendah.

Namun, Wimboh optimistis, menutup tahun 2018, kredit industri perbankan tetap tum­buh 12% plus minus 1% di akhir tahun sebab trennya pada Desember akan ada peningkatan kredit.

Ini lantaran perusahaan biasanya menarik pinjaman untuk kebutuhan akhir tahun mereka seperti bonus dan membayar pajak.

“Jadi, akhirnya kredit tumbuh sekitar 12%-13% sudah dalam target tahun lalu. Tandanya ekonomi sudah menggeliat. Kami memberikan guidance bagaimana penyaluran kredit UMKM (usaha mikro, kecil, menengah) dan KUR (kredit usaha rakyat) melalui klaster,” tutur Wimboh.

Ia berharap pada 2019 tekanan kredit akan lebih mild (lunak) sebab kenaikan suku bunga AS tidak akan seberat pada 2018.

Tensi perang dagang pun bakal mereda dan berbagai negara telah mengimbau normalisasi kebijakan ekonomi AS agar tidak berdampak berlebihan pada emerging market.

RDG BI
Indeks harga saham gabung-an (IHSG) dan mata uang rupiah unjuk gigi pada penutupan perdagangan kemarin. Keduanya berhasil naik setelah sinyal kenaikan suku bunga The Fed belum kencang.

IHSG kemarin tercatat naik 94,2 poin atau mencapai 6.176,094. Volume perdagangan mencapai 19,8 miliar lembar saham dengan nilai Rp11 triliun. Sebanyak 231 saham naik dan 166 saham turun. Aksi jual asing mencapai Rp376 miliar.

Adapun pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksi­kan antarbank di Jakarta me­­nguat 62 poin ke posisi 14.439 dari sebelumnya 14.501 per dolar AS.

Analis dari Monex Inves­tin­do Futures Putu Agus Pran­­suamitra mengatakan penguat­an rupiah kemarin ter­bantu oleh tekanan yang dialami dolar AS menjelang pengumuman kebijakan moneter The Fed dini hari tadi.

“The Fed sangat mungkin akan menaikkan suku bu­nga, tapi untuk tahun depan pasar memperkirakan suku bunga akan naik hanya dua kali. Itu yang menyebabkan dolar mengalami tekanan,” ungkap Putu seperti dikutip dari Antara.

Selain itu, kata Putu, penurunan harga minyak mentah jadi sentimen positif bagi ru­­piah untuk melanjutkan tren positif. “Harga mi­nyak yang turun ke depannya dapat meringankan beban impor, yang bisa membuat neraca perdagangan kembali surplus.”

Hari ini, Gubenur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo bersama anggota Dewan Gubernur BI akan menggelar Ra­pat Dewan Gubernur (RDG) BI. RDG antara lain untuk meng­antisipasi hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal Bank Sentral AS (Federal Reserve) pada dini hari tadi. (E-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya