Kemenperin Genjot Ekspor 5 Sektor Industri

(E-3)
19/12/2018 23:45
 Kemenperin Genjot Ekspor 5 Sektor Industri
(ANTARA FOTO/Moch Asim)

KEMENTERIAN Perindustrian (Kemenperin) berupaya menggenjot ekspor lima sektor industri potensial pada ta­hun depan. Kelima sektor industri itu ialah industri ­oto­motif, tekstil dan produk tekstil, produk industri kecil menengah (IKM), makanan dan minuman, serta kimia.

“Pemerintah mendorong peningkatan ekspor terhadap industri yang masih memiliki kapasitas. Misalnya pada industri kimia, semen masih bisa karena kapasitasnya 100 juta ton, sementara domestic market kebutuhannya 70%,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam jumpa pers di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu (19/12).

Dalam hal ini, Airlangga mendorong industri otomotif mampu mengekspor kendaraan jenis multi-purpose vehicle (MPV) dan kendaraan sport utility vehicle (SUV) hingga men­dekati 300 ribu unit tahun depan, sedangkan ekspor ken­daraan saat ini rata-rata 200 ribu unit per tahun.

Menurut Airlangga, dalam rangka menggenjot ekspor, Indonesia juga akan menjalin kemitraan ekonomi dengan berbagai negara melalui free trade agreement (FTA) atau comprehensive economic partnership agreement (CEPA).

Airlangga menyampaikan Indonesia memiliki peluang besar untuk merambah pasar-pasar ekspor melalui kemitraan itu, di antaranya kemitraan Indonesia-European Free Trade Association CEPA.

“Dengan IE CEPA ditandatangani, peluang untuk meningkatkan ekspor akan sangat besar. Berbagai produk andalan dari Indonesia juga siap merambah pasar global, misalnya ekspor industri perhiasan ke Swiss dan juga produk-produk IKM,” ujarnya.

Menperin berharap, berbagai upaya itu dapat mendongkrak ekspor produk Indonesia ke berbagai negara sehingga mampu mengurangi defisit neraca perdagangan nasional.

Menperin menambahkan, pada 2019 Kemenperin juga akan membidik pertumbuhan industri sebesar 5,4%, atau lebih rendah jika dibandingkan dengan target pertumbuhan industri pada 2018, yakni 5,6%.

Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar menyampaikan target pertumbuhan industri 2019 menyesuaikan dengan kondisi perekonomian global, yakni berbagai negara tengah berupaya memproteksi pasar mereka.

“Semua negara sekarang ini melakukan proteksi, hampir semua negara. Amerika Serikat yang memulainya dengan Trump policy-nya. Akhirnya semua negara ikut melakukan proteksi. Ini kan mempersulit ruang gerak,” pungkas Haris. (E-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya