Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DEWAN Ekspor Kedelai Amerika Serikat (United States Soybean Export Council/USSEC) mengungkapkan tren harga kedelai terus menurun sejak memanasnya hubungan perdagangan dengan Tiongkok. Kendati ketegangan sudah sedikit mereda, harga komoditas unggulan Negeri Paman Sam itu masih belum kembali pada titik terbaik.
Regional Director USSEC South East Asia, Timothy Loh, mengatakan situasi harga kedelai internasional sudah mulai pulih tetapi masih dalam level yang rendah jika dibandingkan sebelum perang dagang bergulir.
"Sekarang sedang terjadi diskusi antara AS dan Tiongkok. Kami lihat hal itu mengarah pada suatu hal yang positif," ujar Loh di Jakarta, Senin (17/12).
Baca juga: Penerbitan IUPK Freeport Tunggu KLHK dan Kemenkeu
Ia mengatakan pergerakan harga kedelai sangat bergantung pada situasi yang terjadi di dunia."Kita tidak bisa prediksi kapan akan membaik. Itu tergantung banyak faktor. Kalau ini berubah, kalau itu berubah, harga akan bereaksi. Bisa cepat, bisa lambat," jelasnya.
Tanpa menyebutkan harga di tingkat dunia, ia mengatakan harga kedelai saat ini sudah sangat atraktif. Terlebih, menurutnya, kedelai hasil petani AS memiliki kualitas yang sangat baik.
"Dengan kualitas yang ada, harga saat ini sudah sangat menguntungkan. Kami merekomendasikan para pelaku usaha untuk bergerak membeli kedelai AS sekarang. Karena bisa saja kondisi berubah membaik dan harga kembali terangkat," ucapnya.
USSEC mencatat ekspor kedelai ke Indonesia pada periode Oktober 2017-September 2018 mencapai 2,5 juta ton. Pasokan dari AS mampu memenuhi 95% kebutuhan impor kedelai Tanah Air. Adapun, sebanyak 92% dari 2,5 juta ton tersebut ditujukan untuk bahan baku perajin tahu tempe. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved