PGE Siapkan PLTP Baru di Garut

Sugeng Sumaryadi
17/12/2018 06:00
PGE Siapkan PLTP Baru di Garut
(Ilustrasi -- MI/MOHAMAD IRFAN )

INDONESIA merupakan negara penghasil panas bumi terbesar di dunia. Potensi geotermal yang tersebar di Nusantara mencapai 29 ribu megawatt (Mw), atau 40% dari total potensi dunia. Namun, Indonesia baru memanfaatkan potensi itu kurang dari 5% untuk pembangkit listrik. Pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, berupaya mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan, termasuk panas bumi sebagai pembangkit.

PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) merupakan salah satu perusahaan yang memanfaatkan energi panas bumi, terutama untuk pembangkit. Selain PGE, pemain lain dalam bisnis itu di antaranya Star Energy, Medco, dan Chevron. Salah satu lahan eks plorasi energi panas bumi yang digarap PGE ialah Pembangkit Listrik Panas Bumi Kamojang, di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Direktur Utama PT PGE Ali Mundakir mengungkapkan Kamojang merupakan pembangkit listrik panas bumi pertama di Indonesia. Secara komersial, pembangkit itu mulai beroperasi pada 1983.

Menurut dia, sampai saat ini dari kawasan kerja Kamojang sudah lima pembangkit yang dioperasikan. Pembangkit 1, 2, dan 3 dioperasikan PT Indonesia Power, tetapi mendapat pasokan panas bumi dari sumur PGE. Pembangkit 4 dan 5 milik PGE yang menjual listrik ke PT PLN.

“PGE menjual gas ke Indonesia Power seharga US$0,06 per kwh dan menjual listrik US$0,09 per kwh ke PLN. Total pembangkit listrik panas bumi di Kamojang menyumbang 235 Mw ke jaringan interkoneksi Jawa Bali yang mendapat total pasokan listrik sekitar 16 ribu Mw,” jelas Ali pada peringatan 35 tahun PLTP pertama di Indonesia, Sabtu (15/12). Acara yang digelar di kompleks Pembangkit Listrik Panas Bumi Kamojang, Kabupaten Garut, ini dihadiri Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Trevor Matheson. Pemerintah dan pakar dari Selandia Baru terlibat dalam pengeboran panas bumi di Kamojang sejak 1974 silam.

Pada kesempatan yang sama, General Manager PGE Kamojang, Wawan Darmawan, menambahkan, pihaknya tengah merintis beroperasinya pembangkit keenam di Kamojang yang menghasilkan listrik 50 Mw. Titik pengeboran akan dilakukan di kawasan Gunung Guntur Masigit.

“Tahun ini, kami sudah mengajukan alih fungsi lahan hutan di kawasan itu dari hutan konservasi menjadi taman wisata alam sehingga manfaat panas bumi bisa dieksploitasi. Kami targetkan, setelah perubahan status dan izin tuntas, pengeboran, pembangunan pembangkit dan operasionalnya bisa dilaksanakan dalam kurun 4 tahun kemudian,” paparnya.

Target meningkat

Dalam kesempatan itu, Ali menyampaikan PT PGE memproyeksikan laba perusahaan sebesar US$80 juta selama 2019. Angka itu, kata dia, naik 10% dari target yang dipatok pada 2018.

“Selama 2018, kami mampu mencapai target. Tahun depan, pendapatan dan laba perusahaan akan bertambah dengan pengoperasian satu pembangkit tambahan di Lumut Balai, Baturaja, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, yang menghasilkan daya listrik sebesar 55 Mw,” ungkapnya.

Sampai akhir 2018, lanjut dia, PT PGE memproduksi daya listrik total 615 Mw dari 12 wilayah kerja panas bumi. Di antaranya di Kamojang, Garu t, Lahendong, Sulawesi Utara, Sibayak, Sinabung, Sumatra Utara, Ulubelu, Tanggamus, Lampung, Gunung Salak, Bogor, dan Darajat, Garut. (E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya