Realisasi Wakaf Indonesia Tertinggal dari Singapura

(E-1)
13/12/2018 03:00
Realisasi Wakaf Indonesia Tertinggal dari Singapura
(MI/IMMANUEL ANTONIUS)

INISIASI baru untuk mengembangkan pembiayaan wakaf ke sektor-sektor produksi diyakini akan menjadi prog­ram pembiayaan baru yang dapat mempercepat upaya peningkatan kese­jahteraan dan penurunan kemiskinan.

Ketua Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI) Mohammad Nuh dalam Festival Ekonomi Syariah Indonesia (ISEF) 2018 di Jakarta, Rabu, menje­laskan bahwa program wakaf produk­tif merujuk pada skema pengelolaan wakaf. Dalam wakaf produktif, harta benda yang diwakafkan akan digunakan dalam kegiatan ekonomi produksi.

“Pengembangan wakaf produktif se­cara masif diharapkan dapat mem­per­cepat pembangunan ekonomi dan memperkuat stabilitas sistem keuangan nasional dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Nuh seperti dikutip dari Antara.

Konsep wakaf produktif bukan hanya penghimpunan harta atau benda hasil wakaf, melainkan juga bermanfaat dan lebih besar karena penggunaannya akan ditujukan untuk meningkat­kan kesejahteraan sehingga perekono­mi­an dapat lebih stabil dan berkelanjutan.
“Kami tidak hanya mengumpulkan aset wakaf, tetapi ingin membangun kerja sama antarpengelola harta wakaf menjadi upaya produktif,” ujar Nuh.

Oleh karena itu, dia memandang per­lu dibentuk ekosistem wakaf produktif. Kalau ekosistemnya sudah terbangun, masyarakat dapat lebih mudah mewakafkan hartanya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Erwin Rijanto mengatakan, sebagai negara mayoritas berpenduduk muslim, masih terdapat ironi di Indonesia, ka­rena realisasi wakaf masih tertinggal dari negara-negara asing seperti Singapura.

Model wakaf produkti bisa menja­di pembiayaan sosial syariah untuk mengejar ketertinggalan dari skema pembiayaan komersial  perbankan.

“Instrumen seperti wakaf dapat le­bih diperkuat sehingga semakin ber­peran  untuk mendukung berbagai aktivitas produktif dan redistribusi kesejahteraan kepada masyarakat kurang mampu,” ujar Erwin.

Selain realisasi wakaf, secara keselu­ruhan perkembangan ekonomi  syariah Indonesia tertinggal dari negara lainnya.

Bahkan industri kita tertinggal jauh dari Thailand dan Korea yang lebih maju dalam industri halal. Untuk itu dibutuhkan kerja keras guna mengejar ketertinggalan itu. (E-1)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya