Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PELEMAHAN rupiah di sesi pagi masih disebabkan oleh kekhawatiran melemahnya ekonomi Amerika Serikat (AS) pascarilis data Nonfarm Payroll AS bulan November 2018, dimana penyerapan angkatan kerja hanya tumbuh 155 ribu. Angka ini jauh lebih rendah dari perkiraan 198 ribu dan rata-rata tahun 2018 sebesar 206 ribu.
Hal Ini menambah tekanan sell off di pasar saham AS, yang sebelumnya sudah tertekan akibat memanasnya kembali tensi perang dagang AS-Tiongkok, pascanegoisasi kedua negara di sela-sela forum G20, dimana Index S&P 500 sudah anjlok 4,4 % dalam sepekan terakhir.
Kekhawatiran melambatnya ekonomi AS juga tergambar di yield US Treasury Bond 10 tahun yang ke 8,3%, mengakibatkan selisih yield antara 3 dan 5 tahun US Treasury Note menjadi semakin negatif, pertama kali sejak tahun 2007.
Baca juga: Kilang Balikpapan untuk Wujudkan Usaha Petrokimia Terbesar di Indonesia
"Merosotnya saham di AS dan yield obligasi yang menggambarkan ekspektasi pertumbuhan dan inflasi ke depan yang lebih rendah akan menjadi pertimbangan dalam perumusan kebijakan suku bunga the Fed di FOMC 18-19 Desember 2018 nanti. Setidaknya untuk arah suku bunga di tahun 2019," ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter, Nanang Hendarsah, Senin (10/12).
Di pasar uang, indeks future fed fund rate (FFR) dan Overnight Index Swap untuk tahun 2019 dan 2020 sudah bergerak di bawah dot-plot FOMC, artinya pasar berekspektasi the Fed akan mengurangi intensitas kenaikkan suku bunga di tahun 2019, dan bisa kemungkinan mulai turun di tahun 2020.
Dengan latar belakang tersebut, seharusnya tekanan pelemahan terhadap mata uang Emerging Market akan lebih kecil. Rekasi pasar hari ini lebih karena terjadinya aksi “flight quality” atau “knee-jerk reaction” yang sifatnya jangka pendek.
"Dalam merespons pergerakan rupiah, Bank Indonesia kembali melakukan intervensi di pasar DNDF untuk mendorong “market liquidity” DNDF sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," tukas Nanang.
Rupiah jelang penutupan perdagangan,Senin (10/12) berada pada posisi 14.549 per dolar AS, melemah 0,48% dari sebelumnya di 14.480 per dolar AS. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved