Membangun Infrastruktur, Mengelola Harapan Masyarakat

Andhika Prasetyo
10/12/2018 11:15
Membangun Infrastruktur, Mengelola Harapan Masyarakat
(MI/ROMMY PUJIANTO)

MEMBANGUN infrastruktur pada hakikatnya adalah mengelola harapan masyarakat dalam memperoleh fasilitas kehidupan yang lengkap dan berkualitas.

Pada masa lalu, infrastruktur dibangun untuk memenuhi kebutuhan dasar. Namun, kini, infrastruktur dibangun untuk meningkatkan daya saing kita.

"Walaupun tujuannya berbeda, tetapi intinya tetap sama, untuk masyarakat," ujar Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono melalui keterangan resmi, Senin (10/12).

Dalam sisi pembangunan infrastruktur, Indonesia bisa dikatakan sedikit tertinggal dari beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Maka dari itu, pemerintah melakukan pembangunan dengan masif di berbagai wilayah dengan langgam 'rock n roll'.

Dari segi konektivitas, pada kurun 2015 hingga 2018, telah dibangun jalan baru sepanjang 3.432 kilometer (km), melebihi target awal yang ditetapkan hanya 2.650 km. Adapun, pembangunan yang dilakukan meliputan jalan tol, jalan nasional dan jalan perbatasan.

Selain itu, ada juga pembangunan jembatan dengan total panjang 39.798 meter melebihi target semula yakni 29.859 meter hingga 2019.

 

Baca juga: Redistribusi Tanah Pemenuhan HAM

 

Di luar konektivitas, pemerintah telah merampungkan 17 bendungan dari target 65 bendungan. Selain itu juga dibangun sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) salah satunya SPAM Umbulan yang akan mensuplai air bagi masyarakat Jawa Timur yakni di Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Gresik dan sekitarnya.

Di sektor perumahan, penyediaan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah dilakukan bekerja sama dengan stakeholder lain seperti asosiasi pengembang, pemerintah daerab, dan perbankan dalam Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan sejak 2015. Pada 2018, diproyeksikan 1.041.323 unit.

"Pembangunan infrastruktur yang menjadi program prioritas Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla akan menjadi modal bagi generasi muda atau milenial untuk lebih berdaya saing. Generasi milenial akan jadi penentu masa depan Indonesia Emas tahun 2045," tuturnya.

Menghadapi persaingan global, Basuki berpesan kepada milenial untuk bersikap militan dengan apa yang dikerjakan.

“Harus keras menempa diri. Kalau tidak, dunia yang akan keras kepada kalian. Selain itu, saya ingatkan juga bahwa smart is a must, but not sufficient. Kita juga harus memiliki akhlakul karimah. Baru itu top,” ucapnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya