Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong optimistis bahwa ekonomi Indonesia di 2019 akan lebih baik dari 2018, meskipun kondisi makro dan tekanan dari eksternal nanti akan tidak kalah berat dari 2018 ini.
Suku bunga dolar AS akan terus naik, bahkan kemungkinan kenaikan kembali harga minyak harus masih diwaspadai.
Merefleksi dari tiga tahun lalu, ketika pernah terjadi rupiah ambruk mendekati Rp15 ribu per dolar AS. Yang memicu ambruknya rupiah dan mata uang semua negara berkembang, disebabkan oleh oleh shocked devaluation dari mata uang Tiongkok.
Negara tersebut membuat kursnya lebih fleksibel di pasar. Namun karena komunikasinya blunder, akhirnya semua pelaku pasar kaget. Akibatnya kurs rupiah, baht, dan ringgit, ikut rontok.
Thomas Lembong optimistis, sebab ketika tekanan terjadi di tiga tahun lalu, memicu pemerintah Indonesia melakukan reformasi, dengan gelombang deregulasi dengan paket kebijakan ekonomi.
"Pelan-pelan Indonesia meraih kepercayaan pasar, sampai mendapat kenaikan rating agency. Lalu rupiah pulih. Di 2016 ekonomi membaik, dan terus menguat. Di 2016-2017 terus menguat, investasi terus naik, cadangan devisa yang terancam malah terus naik di 2017 bahkan Januari 2018 mencapai rekor US$ 131 miliar," ujar Thomas dalam Market Outlook 2019 di Jakarta, Rabu (5/12) malam.
Namun begitu, di 2017 pada sidang kabinet paripurna yang pertama, dia sampaikan kekhawatirannya kepada Presiden. Alasannya, dia mengamati Indonesia mulai kehilangan momentum reformasi.
"Sayangnya ini sifat manusia seluruh dunia kalau lagi baik, dan enak, semua tumbuh positif, kita menjadi malas. Saat terancam situasi buruk, dan tertekan baru kita giat reformasi, efisiensi dan sebagainya," paparnya.
Benar saja, saat awal 2017 ketika ekonomi sedang membaik, rupiah menguat, cadangan devisa terus naik, tetapi tidak ada terobosan baru, Indonesia kemudian kehilangan momentum. Investasi internasional (FDI), kata dia, pun turun untuk pertama kali di 2018, pertama dalam 4 tahun kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla.
"Tahun ini investasi turun hampir 1/3 dari biasanya hampir US$20 miliar per tahun menjadi US$ 11-12 miliar. Jadi itu juga yang membuat kurs rupiah tertekan karena arus modal masuk berkurang banyak tahun ini,"
Investasi internasional turun, harga minyak naik, transaksi berjalan defisit, perdagangan defisit, rupiah ambruk, kemudian semangat reformasi kembali.
"Saya bisa share dalam 4 bulan terakhir semangat, perhatian, terobosan reformasi, penyelesaian apa kendalanya, semangat pulih itu yang membuat saya optimis menghadapi 2019," tukas Lembong. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved