Luhut: Berantem Karena Perbedaan, Kapan Mau Maju?

Insi Nantika Jelita
03/12/2018 16:23
Luhut: Berantem Karena Perbedaan, Kapan Mau Maju?
(ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/)

MENTERI Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengajak masyarakat untuk membuka pola pikir dalam menghadapi revolusi industri 4.0 ke depan.

"Dalam menghadapi revolusi industri 4.0, buka pola pikir kita agar jangan hanya berpikir untuk berantem saja karena berbeda. Kapan kita mau maju. Kapan negeri ini menjadi besar," terang Luhut dalam seminar yang diadakan oleh Lemhanas RI yang bertajuk Penguatan Kapasitas Pemimpin Indonesia di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (3/12).

Baca juga: Kemenperin Pasok SDM Siap Kerja Untuk Industri Petrokimia

Dalam menghadapi revolusi industri 4.0, menurut Luhut, sudah tidak zaman lagi masyarakat meributkan soal perbedaan. Pun termasuk kepada perusahaan-perusahaan agar tidak kaku dalam menerapkan sebuah aturan atau birokrasi.

"Perusahaan itu jangan terlalu banyak Aturan. Banyak aturan membuat kita jadi kaku. Make it simple but responsible. Dan juga kita tidak usah ribut soal perbedaan. Kita bicara nasional interest, ayolah kita bicara itu, ya berbeda pendapat, so what?"ujar Luhut.

Baca juga: G20 Jadi Ruang Pemimpin Negara Lihat Risiko Global

Menurut Luhut, acara yang diprakasai oleh Lemhanas dengan United In Diversity (UID) tersebut merupakan sebuah program yang telah dipersiapkan untuk peningkatan sumber daya manusia.

"Kita bicara soal human capital, karena kalau hanya pembangunan fisik tanpa diikuti pembangunan manusia kan repot. Presiden Jokowi sudah minta mulai tahun depan kita akan memprogramkan secara masif mengenai kualitas pendidikan kita," pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Lemhanas RI Agus Widjojo menyebutkan tantangan yang dihadapi adalah pemerintah harus membuat sebuah program yang sifatnya masif.

"Artinya, bisa menjangkau dengan jumlah yang besar dalam waktu relatif singkat. Ini sebetulnya perwujudan dari revolusi mental untuk meningkatkan peradaban Indonesia, dan itu tentunya harus mempunyai kompatibilitas sumber daya manusia yang kompeten." tandas Agus. (OL-6)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya