Presiden: Hasil Pembangunan tidak Bisa Instan

Rudy Polycarpus
02/12/2018 22:25
Presiden: Hasil Pembangunan tidak Bisa Instan
(ANTARA)

HINGGA saat ini pemerintah telah menggelontorkan dana desa sebesar Rp187 triliun guna meningkatkan kesejahteraan serta mengurangi ketimpangan dan kemiskinan masyarakat.

Namun, menurut Presiden Joko Widodo, manfaat dana desa ini tidak bisa instan dan baru bisa dinikmati untuk jangka panjang.

Hal ini disampaikan Jokowi saat sosialisasi prioritas penggunaan dana desa tahun 2019 di Lapangan Bola Bojong Kiharib, Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (2/12).

"Mungkin tidak tahun ini, tetapi ke depan kita akan mendapatkan manfaat besar. Kadang-kadang kita senangnya main instan dan mendadak apa manfaatnya. Ini manfaatnya akan kita rasakan setelah 5 atau 6 tahun," ujarnya di hadapan ribuan perangkat desa yang hadir.

Presiden yang didampingi Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo, memaparkan, sejak dana tersebut dikucurkan ke 74.900 desa, pembangunan berjalan masif. Sudah terbangun 123.000 km jalan desa, 11.500 unit posyandu, 18.000 PAUD, 6.500 pasar desa, 791.000 meter jembatan, 28.000 unit irigasi, dan 1.900 embung, serta 2.600 Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

Kepada para pengelola dana desa, Presiden pun meminta agar penggunaan dana itu difokuskan untuk prioritas kebutuhan desa. Seperti pembangunan jalan, jembatan, penyediaan air bersih, dan lain-lain.

Menurutnya, jika dana desa tak dimanfaatkan untuk program pembangunan besar-besaran, Indonesia bisa saja menjadi negara yang rapuh.

"Negara lain sudah kemana-mana. Misalnya pembangunan besar jalan tol. Indonesia hanya membangun jalan tol 780 kilometer. 1.000 saja enggak ada. Saat yang sama Tiongkok membangun 280.000 kilometer," tuturnya.

Jokowi menambahkan, sebenarnya pemerintah bisa saja menggunakan dana desa untuk membangun infrastruktur di Pulau Jawa. Keputusan ini dinilai lebih populis karena 60% dari penduduk nasional ada di Jawa.

"Saya berani mengambil risiko ini karena saya tahu kita memerlukan pemerataan pembangunan. Kalau saya mau, saya bangun saja di Jawa, luar Jawa enggak usah," imbuh mantan Wali Kota Solo itu.

Setelah fokus pada pembangunan infrastruktur, Jokowi mengingatkan penggunaan dana desa pada tahun berikutnya agar difokuskan pada pemberdayaan ekonomi dan inovasi desa. Ia mencontohkan pembangunan pemberdayaan ekonomi di Desa Ponggok, Jawa Tengah yang dapat menghasilkan pendapatan hingga Rp14 miliar.

Tidak hanya itu, Presiden menyebut pula Desa Kutuh di Badung, Bali yang bisa meraup keuntungan bersih Rp34 miliar setiap tahunnya dari sektor pariwisata yang dikelola BUMDes setempat.

"Keinginan desa untuk mengembangkan potensinya menjadi tindak lanjut dari kehadiran infrastruktur. Sehingga desa berinovasi demi memaksimalkan potensi masing-masing. Apalagi, penghasilan yang diterima desa dengan inovasi penggunaan dana desa terbilang cukup fantastis," pungkasnya. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya