Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NILAI tukar Rupiah terus menunjukkan penguatannya. Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE), Piter Abdullah, menilai penguatan nilai tukar mata uang garuda tersebut memberikan sentimen positif bagi dunia usaha.
"Secara langsung penguatan Rupiah ini berdampak memberikan keyakinan ke dunia usaha. Mengurangi kekhawatiran kalau Rupiah akan terus melemah hinggal level yang terlalu ekstrim sekaligus menghapus juga spekulasi akan terjadi krisis nilai tukar," katanya kepada Media Indonesia, Jumat (30/11).
Kendati memberikan sentimen positif bagi dunia usaha, Piter mengatakan bahwa itu belum berdampak ke struktur biaya. Hal itu karena penguatan Rupiah masih terlalu awal untuk mempengaruhi harga-harga khususnya terkait ekspor-impor.
"Kalau penguatan ini berlanjut sampai akhir tahun, saya kira sudah berdampak cukup signifikan ke harga-harga barang impor. Saya kira yang paling cepat harga BBM. Karena selain Rupiah menguat, harga minyak mentah juga turun," terangnya.
Baca juga: JK Berharap Perdagangan Dunia makin Lebih Baik
Lebih lanjut, Piter menilai Rupiah masih berpotensi kembali melemah. Hal itu karena disebabkan sejumlah faktor. Pertama, The Fed yang diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga. Kedua, perang dagang yang masih akan memunculkan ketidakpastian dan memicu sentimen negatif.
Ketiga, harga minyak yang masih berpotensi naik kembali. Menurut Piter, hal itu semua akan memicu aliran modal asing keluar dan menekan nilai tukar Rupiah. Sementara, kata Piter, di dalam negeri kita terus bermasalah dengan neraca transaksi berjalan yang defisit.
"Saya memperkirakan kuartal I 2019 ada potensi Rupiah kembali melemah di atas Rp15 ribu," pungkasnya. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved