Pinjam Jagung Jadi Preseden Negatif

(E-1)
30/11/2018 02:00
Pinjam Jagung Jadi Preseden Negatif
(ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

LANGKAH Kementerian Pertanian (Kementan) meminjam jagung ke pihak swasta demi memenuhi kebutuhan dalam negeri dapat memberikan dampak buruk bagi iklim investasi.

Pihak yang ingin berinvestasi dalam bidang peternakan jadi berpikir ulang tentang ketersediaan pakan.

“Jadi orang yang mau investasi di peternakan akan berpikir bagaimana mau punya kepastian akan suplai dari pakan. Kalau pakannya tidak tercukup, kemudian ternaknya mati, siapa yang menanggung,” ujar Direktur Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati dalam keterangan tertulisnya.

Enny menambahkan, kebijakan untuk meminjam jagung dari pihak swasta bukan sesuatu hal yang lazim. Ia juga heran, sejatinya Perum Bulog tidak memiliki kewajiban menjaga stok jagung karena Bulog hanya diamanatkan untuk mencadangkan beras dan gabah.
 
“Bulog tidak diamanatkan untuk jagung­, hanya beras dan gabah. Apalagi berkali-kali Kementan bilang surplus. Kalau surplus kan seharusnya tidak terjadi kelangkaan dan harga tinggi, dong,” tandas Enny.

Senada, Ketua Bidang Peternakan dan Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton J Supit mengatakan, peminjaman jagung ke pihak swasta ialah hal yang aneh. Bukan saja karena sebelumnya Kementan mengklaim ada surplus 12,98 juta ton jagung. Tapi peminjaman­ juga dinilai tidak sehat untuk pihak swasta dan dunia investasi.

“Aneh sekali kalau klaim surplus, lalu malah pinjam jagung ke perusahaan swasta. Ini kan secara tidak langsung mengakui kita kekurangan (jagung),” ujar Anton.

Meski pinjaman jagung ini nanti diganti ketika jagung impor sudah masuk, kegiatan peminjaman ini menjadi preseden negatif bagi dunia usaha.  Dari sisi keuangan, peminjaman jadi pertanyaan besar. “Jadi mengelola ekonomi harus dengan data yang betul, jangan klaim surplus, tapi impor 100 ribu ton dan pinjam dulu ke swasta,” tandasnya.

Sebelumnya, dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman kerap menyampaikan adanya surplus jagung dengan jumlah hampir  13 juta ton. Namun, belakangan Kementan nyatanya tidak mampu menghadirkan stok jagung yang cukup untuk para peternak sebagai pakan.

Kementan lantas memilih meminjam jagung dari 2 perusahaan pakan ternak besar (feedmill), yaitu Charoen Pokphand, dan Japfa, sebanyak 10 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan peternak. (E-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya