Pertamina Segera Produksi Baterai Kendaraan Listrik

Cahya Mulyana
30/11/2018 01:30
Pertamina Segera Produksi Baterai Kendaraan Listrik
(MI/Susanto)

PEMERINTAH berencana mengembangkan kendaraan listrik. Sebagai salah satu penyedia energi di Tanah Air, PT Pertamina pun tidak mau ketinggalan ambil bagian dengan membangun pabrik baterai dan menyediakan stasiun pengisian listrik umum (SPLU) di seluruh stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU).

“Pertamina bersemangat untuk mengembangkan bateri sendiri, baik dari aspek teknis maupun bisnis,” kata Senior Vice President Research and Technology Center Pertamina Herutama Trikoranto da­lam acara Pertamina Energy Forum (PEF) 2018 di Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta, kemarin.

Ia mengatakan Pertamina sudah siap dari aspek teknis dengan ke­ha­diran pusat riset yang bekerja sama dengan banyak pihak untuk menghadirkan baterai berkualitas tinggi dengan harga terjangkau. Mereka juga bakal memanfaatkan nikel dalam negeri sebagai bahan baku baterai listrik sekaligus memutus impor.

“Dari aspek bisnis, Pertamina ingin jadi pelopor sebagai pembuat bateri nasional karena kita sadari bahwa peran Pertamina saat ini men­dukung penyediaan energi un­tuk transportasi itu sentral. Seba­nyak 95% kan energi dipenuhi Pertamina,” katanya.
Pertamina berencana membangun pabrik dan menargetkan mampu berproduksi baterai kendaraan listrik pada 2020 atau 2021.

“Kita berharap 2020-2021 itu sudah bisa produksi dari pabrik baterai kita secara komersial. Sekarang sudah ada produksinya, tapi masih dari unit-unit yang kepentingannya untuk riset, jadi kapasitas terbatas,” jelasnya.

Dengan Indonesia sebagai negara penghasil nikel terbesar di dunia, Heru optimistis pihaknya tidak akan kekurangan bahan baku untuk membuat baterai kendaraan listrik.

“Soal kawasan (lokasi pabrik ba­terai), pemilihannya belum kita lakukan karena sedang penjajakan dengan partner. Misalnya pakai lahan Pertamina, lebih mudah untuk tekan cost, bisa saja. Tapi bisa juga di kawasan ekonomi khusus dengan pertimbangan lain. Jadi belum ada keputusan,” paparnya.

Lebih jauh Heru mengatakan Per­tamina juga akan menghadirkan SPLU di setiap SPBU untuk memastikan ketersediaan listrik kendaraan ramah lingkungan.

“Showcase sudah kita buat di Kuningan. Jadi, seperti yang saya sampaikan, Pertamina sudah kembangkan renewable, kita kembangkan green energy station,” ­tukasnya.

Untuk diketahui, guna mengurangi polusi dan ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM), pemerintah berupaya mengembangkan kendaraan listrik, baik roda empat maupun dua. Bahkan, untuk motor, tahun depan sudah akan diproduksi massal.

“Insya Allah produksi massal dilakukan Januari. Barang ini sudah di­uji tes semuanya,” kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) M Nasir dalam laporannya saat bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, awal November lalu.

Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan ­mengatakan produksi dan pasar kendaraan listrik mungkin menjadi masif jika ada dukungan pemerintah berupa pemberian insentif dalam pengembang mobil listrik di Indonesia. Selain itu, kata dia, tentu saja perlu didukung infrastruktur, termasuk SPLU.

“Jika era kendaran listrik tidak dimulai, pada 2025 diperkirakan impor minyak dan gas bumi bisa dua kali lipat. Kalaupun ­kendaraan listrik belum bisa, setidaknya bisa pakai kompor listrik. Itu juga bisa mengurangi gas rumah kaca,” ujarnya. (E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya