BI :The Fed Melunak, Apresiasi Rupiah Berlanjut

Fetry Wuryasti
29/11/2018 18:19
BI :The Fed Melunak, Apresiasi Rupiah Berlanjut
(ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

RUPIAH sempat menguat cukup tajam ke Rp14.330, namun kemudian ditutup di Rp14.375 atau menguat Rp 150 (1,03%) dibandingkan penutupan perdagangan Rabu di Rp14.525.

Penguatan Rupiah dipicu pernyataan Chairman Federal Reserve, Jerome Powell, yang memperlunak pandangannya (stance) suku bunga kebijakan the Fed yang dipandang sudah berada sedikit di bawah kisaran suku bunga "neutral".

Pernyataan Powel tersebut semakin memperkuat meyakinkan pasar bahwa tren kenaikan FFR sudah mendekati akhir. Setelah kenaikan di bulan Desember, pasar memperkirakan hanya ada 1 kali kenaikan di tahun 2019.

"Pasar juga optimis dengan semakin terbukanya kesepakatan dagang antara AS dan Tiongkok, yang akan di negoisasikan diantara kedua Pimpinan AS dan China pada pertemuan G20," jelas Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI), Nanang Hendarsah, Kamis (29/11).

Baca juga: Pengamat: Kalau Surplus Jagung, Mestinya tidak Langka

Dua faktor global utama yaitu ekspektasi kenaikkan suku bunga the Fed dan tensi perang dagang yang terus memanas, yang selama April-September 2018 terus menekan rupiah. Namun pada saat ini sudah memberikan iklim yang lebih kondusif bagi terciptanya stabilitas nilai tukar rupiah. Sehingga tidak menutup kemungkinan akan membuat rupiah semakin menguat.

Faktor positif lainnya adalah terus merosotnya harga minyak mentah dunia, yang sudah menyentuh US $50 per barel, yang dapat mengurangi tekanan pada defisit neraca perdagangan migas Indonesia ke depan.

Bank Indonesia mencermati dampak dari dinamika global tersebut terhadap penguatan rupiah, dan melihat ruang yang masih besar bagi penguatan lebih lanjut. Hal ini karena rupiah sempat melemah cukup tajam selama 2018 sehingga penguatan saat ini masih cukup wajar.

Penguatan rupiah ini juga menunjukkan kepercayaan investor global terhadap perekonomian Indonesia yang semakin kuat, karena respon kebijakan moneter dan fiskal yang konsisten dan pruden dalam merespon tantangan global dan domestik termasuk dalam mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan.

Arus modal global ke pasar sekunder  SBN selama November 2018 telah mencapai Rp31,8 triliun, dan sepanjang tahun 2018 (YTD) telah mencapai Rp63 triliun. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya