Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PELAKU usaha peternakan mempertanyakan kebijakan Kementerian Pertanian untuk meminjam jagung kepada pihak swasta.
“Aneh sekali kalau klaim surplus, malah pinjam jagung ke perusahaan swasta, ini kan secara tidak langsung mengakui kita kekurangan (jagung),” ujar Ketua Bidang Peternakan dan Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton J Supit dalam rilis yang diterima Media Indonesia, Rabu (28/11).
Dia mengatakan, peminjaman jagung ke pihak swasta adalah hal yang aneh. Bukan saja karena sebelumnya Kementan mengklaim ada surplus 12,98 juta ton jagung. Tapi peminjaman juga dinilai tidak sehat untuk pihak swasta dan dunia investasi.
Menurutnya, pinjaman jagung juga berpeluang menjadi preseden negatif bagi dunia usaha. Kebijakan pemerintah yang memberikan kemudahan bagi dunia usaha paradoks dengan yang dilakukan Kementan.
“Para investor tentu akan melihat dan mengevaluasi setiap kebijakan yang dibuat Kementan atau pemerintah. Membiarkan kenaikan bahan baku pakan dan malah meminjam untuk kebutuhan peternak, apa tidak ada cara yang lebih elegan?” tanyanya.
Dari sisi keuangan, peminjaman juga jadi pertanyaan besar. Dijelaskan Anton, jika swasta meminjamkan aset produksinya sebanyak 10 ribu ton atau 10 juta kilogram dengan kisaran harga Rp5.000 per kilogram, ada dana Rp 50 miliar yang dipinjamkan dari swasta ke pemerintah.
“Sekarang harga jagung sudah melebihi Rp6.000 per kilogram. Kalikan saja, berarti 10.000 ton itu jadi Rp60 miliar. Jadi mengelola ekonomi harus dengan data yang betul, jangan klaim surplus tapi impor 100.000 ton dan pinjam dulu ke swasta,” tandasnya.
Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis (15/11), merilis data impor jagung sepanjang Januari hingga Oktober 2018 mencapai 502,8 ribu ton dengan nilai US$110 juta. Jumlah itu lebih besar daripada impor jagung periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 414,5 ribu ton dengan nilai US$92,3 juta.
Data resmi BPS itu bertolak belakang dengan klaim Kementerian Pertanian tentang swasembada jagung. Selama ini, Menteri Pertanian Amran Sulaiman berkeras produksi ja-gung mencapai 30 juta ton, jauh melebihi angka kebutuhan 15,5 juta ton. Artinya, terdapat surplus 13,5 juta ton.
Sebelumnya, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan Sugiono mengungkapkan kebijakan pinjam jagung dari perusahaan pakan ternak besar (feed mill) sedianya merupakan program yang diinisiasi Perum Bulog.
"Peminjaman ini atas usul dan menjadi program Bulog untuk membantu peternak kecil. Atas permintaan Bulog, Kementan membantu menentukan peternak yang tersebar di daerah mana saja yang membutuhkan bantuan jagung untuk pakan dalam waktu dekat," ujar Sugiono.
Saat ini, sudah terdapat dua feed mill yang bersedia bermitra dan meminjamkan jagung mereka ialah Charoen Pokphand dan Japfa dengan total 10 ribu ton. (A-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved