Pengamat: Kalau Surplus Jagung, Mestinya tidak Langka

Henri Siagian
29/11/2018 17:32
Pengamat: Kalau Surplus Jagung, Mestinya tidak Langka
(Adam Dwi/MI)

KEBIJAKAN Kementerian Pertanian (Kementan) meminjam jagung kepada pihak swasta demi memenuhi kebutuhan dalam negeri memberikan dampak buruk bagi iklim investasi Indonesia.

Direktur Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan, kebijakan itu dapat menjadi bumerang terhadap iklim investasi di Indonesia.

"Iya. Jadi orang yang mau investasi di peternakan akan berpikir bagaimana mau punya kepastian suplai pakan. Kalau pakannya tidak tercukup, kemudian ternak mereka mati, siapa yang menanggung," ujar Enny dalam rilis yang diterima Media Indonesia, Rabu (28/11).
 
Apalagi, sambung dia, Kementan bersikukuh tidak merekomendasikan impor jagung karena kondisi sedang surplus jagung. “Yakin jagung surplus, padahal di lapangan tidak ada," katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis (15/11), merilis data impor jagung sepanjang Januari hingga Oktober 2018 mencapai 502,8 ribu ton dengan nilai US$110 juta. Jumlah itu lebih besar daripada impor jagung periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 414,5 ribu ton dengan nilai US$92,3 juta.

Data resmi BPS itu bertolak belakang dengan klaim Kementerian Pertanian tentang swasembada jagung. Selama ini, Menteri Pertanian Amran Sulaiman berkeras produksi ja-gung mencapai 30 juta ton, jauh melebihi angka kebutuhan 15,5 juta ton. Artinya, terdapat surplus 13,5 juta ton.

Enny mengatakan, kebijakan untuk meminjam jagung dari pihak swasta bukan sesuatu hal yang lazim melainkan karena keterpaksaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dalam hal ini peternak unggas. Sebab, suplai jagung yang langkah dan harga mahal.

"Berkali-kali Kementan bilang surplus. Kalau surplus kan seharusnya tidak terjadi kelangkaan dan harga tinggi," seloroh Enny. (

Sebelumnya, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan Sugiono mengungkapkan kebijakan pinjam jagung dari perusahaan pakan ternak besar (feed mill) sedianya merupakan program yang diinisiasi Perum Bulog.

"Peminjaman ini atas usul dan menjadi program Bulog untuk membantu peternak kecil. Atas permintaan Bulog, Kementan membantu menentukan peternak yang tersebar di daerah mana saja yang membutuhkan bantuan jagung untuk pakan dalam waktu dekat," ujar Sugiono.

Saat ini, sudah terdapat dua feed mill yang bersedia bermitra dan meminjamkan jagung mereka ialah Charoen Pokphand dan Japfa dengan total 10 ribu ton. (A-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Henri Siagian
Berita Lainnya