Jonan: Kendaraan Listrik Solusi Kurangi Impor dan Penurunan Produksi Migas

Cahya Mulyana
29/11/2018 14:53
Jonan: Kendaraan Listrik Solusi Kurangi Impor dan Penurunan Produksi Migas
(Menteri ESDM Ignasius Jonan -- MI/ADAM DWI)

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menerangkan kendaraan listrik merupakan solusi menghadapi penurunan produksi kinyak dan gas (migas) nasional yang terus menurun. Tidak hanya itu, kendaraan ramah lingkungan itu juga bisa menekan impor BBM yang merenggut banyak devisa.

"Untuk mengurangi impor fuel maka kita perlu kendaraan listrik. Produksi minyak Indonesia kira sehari itu 775 ribu barel oil per day, penemuan ladang minyak baru yang besar mungkin 10 dan terakhir ditemukan 15 tahun yang lalu adalah sumber minyak di Banyu Urip yang dikelola oleh Exxon, kita di Cepu,"ujarnya dalam acara Pertamina Energy Forum di Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta. Kamis, (29/11)

Menurut dia penemuan ladang minyak telah lama sehingga produksi minyak hanya mengandalkan sumur tua. Akhirnya produksi migas dalam negeri terus menurun karena kondisi alami.

"Penemuan sumur oleh Pertamina itu kapan itu? Jangan-jangan itu zaman Ibnu sitompul, Tanri abeng jadi menteri BUMN," katanya.

Sementara itu, kata dia, permintaan migas nasional berbanding terbalik dengan produksi. Karena per hari kebutuhan BBM mencapai 1.3 juta liter maka wajar impor pun semakin tinggi yakni 400 ribu barel per hari.

"Ini kuranginya bagaimana dari produksi migas? Kalau Jepang loncat dia ke elektrik dengan konsekwensi impor batu baranya naik," jelasnya.

Oleh sebab itu pemerintah sangat mendorong industrialisasi untuk membuat kendaraan dari listrik. "Kenapa penting, Karena listriknya dihasilkan dari energi primer (batu bara) yang besar," tegasnya.

Belum lagi sumber energi lain yang banyak, kata Jonan, selain batu bara yakni gas alam, geo thermal, air, tenga surya, bio massa, arus laut dan angin. "Dengan begitu diharapkan mengurangi impor BBM. Tapi kalau mobil listrik tidak jalan saya kira impor BBM bisa jadi 2 kali lipat atau hampir 1juta barel per hari di 2025 atau 2030,"pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya