Gubernur BI Sebutkan Tiga Tantangan Sepanjang 2018

Fetry Wuryasti
27/11/2018 13:50
Gubernur BI Sebutkan Tiga Tantangan Sepanjang 2018
(ANTARA)

GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan 2018 merupakan tahun yang penuh tantangan. Perekonomian global tumbuh tidak merata dan penuh ketidakpastian. Kondisi ini kemungkinan masih akan berlanjut pada tahun 2019 dan tahun berikutnya.

“Setidaknya ada tiga hal penting yang perlu kita cermati. Pertama, pertumbuhan ekonomi dunia yang pada tahun 2018 diperkirakan sekitar 3,73% kemungkinan akan melandai ke 3,70% pada 2019,” kata Perry pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2018 di Jakarta, Selasa (27/11).

Ekonomi Amerika Serikat (AS) yang tahun ini tumbuh tinggi diprakirakan akan menurun pada 2019. Ekonomi Uni Eropa dan Tiongkok akan tumbuh melandai dari tahun 2018 ke 2019.

Perkembangan tersebut mendorong volume perdagangan dan harga komoditas dunia yang tetap rendah, dan karenanya menjadi tantangan bagi upaya kita untuk menjadikan ekspor sebagai sumber pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, tekanan inasi mulai tinggi di AS dan cenderung akan meningkat di Uni Eropa dan sejumlah negara lain.

Kedua, kenaikan suku bunga bank sentral AS, the Fed, akan diikuti oleh normalisasi kebijakan moneter di Eropa dan sejumlah negara maju lainnya. Meningkatnya tekanan inasi dan aktivitas ekonomi yang semakin kuat telah menyebabkan stance kebijakan moneter AS yang semakin ketat.

Setelah menaikkan Fed-Fund Rate (FFR) yang akan sebanyak empat kali sebesar 100 basis point pada tahun ini, the Fed AS kemungkinan akan menaikkan lagi suku bunganya tiga kali sebesar 75 basis poin pada 2019.

European Central Bank (ECB) yang mulai melakukan normalisasi kebijakan moneternya melalui pengurangan injeksi likuiditas ke pasar diprakirakan akan mulai memberikan sinyal arah kenaikan suku bunga pertengahan tahun 2019, meskipun realisasi kenaikannya mungkin baru akan terjadi pada akhir 2019 atau awal 2020..

"Arah kenaikan suku bunga di negara-negara maju tersebut memberikan tantangan bagi bank-bank sentral Emerging Markets, termasuk Indonesia, dalam merumuskan respons kebijakan moneternya untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonominya dalam memitigasi dampak rambatan keuangan global," paparnya.

Ketiga, ketidakpastian di pasar keuangan global mendorong tingginya premi risiko investasi ke negara Emerging Markets. Pada awal tahun 2018 kita dikejutkan dengan munculnya ketegangan perdagangan yang dilancarkan Pemerintah AS terhadap sejumlah negara, termasuk Kanada, Meksiko, Uni Eropa, dan Tiongkok.

Hingga kini perundingan perdagangan antara AS dan Tiongkok masih berlangsung, dan kemungkinan masih akan berlanjut pada tahun 2019.

Krisis ekonomi yang terjadi di Argentina dan hampir terjadi di Turki semakin memperburuk persepsi risiko di pasar keuangan global, termasuk sentimen negatif ke sejumlah negara Emerging Markets.

“Tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global juga didorong oleh sejumlah risiko geopolitik, seperti keberlanjutan perundingan Brexit antara Inggris dan Uni Eropa, permasalahan ekonomi di Italia dan sejumlah perkembangan politik lainnya, yang perlu terus kita cermati ke depan,” ulasnya.

Ketiga perkembangan global tersebut berdampak pada kuatnya mata uang dolar AS dan pembalikan modal asing dari negara Emerging Markets, termasuk Indonesia.

Indeks mata uang dolar AS yang pada tahun 2017 meningkat ke 92,12 naik tajam pada tahun 2018 menjadi 96,84 dewasa ini.

Suku bunga obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun meningkat dari 2,41% pada awal tahun 2018 menjadi 3,06% dewasa ini. Aliran modal asing ke Emerging Markets yang pada 2017 masuk sangat besar, yaitu US$101,16 miliar, turun tajam menjadi hanya sekitar US$6,54 miliar pada tahun 2018.

Demikian pula untuk Indonesia, aliran investasi portofolio yang pada tahun 2017 masuk sangat besar hingga US$24,7 miliar kemudian mendadak keluar hingga Juni 2018.

Dengan langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia bersama Pemerintah, aliran portofolio asing kemudian berangsur-angsur kembali masuk menjadi sekitar US $ 7,6 miliar untuk keseluruhan 2018.

“Kondisi perekonomian global yang masih tidak menentu tersebut semakin mempertegas perlunya sinergi untuk memperkuat ketahanan dalam menghadapi dampak rambatan global sambil menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dalam negeri,” tukas Perry. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya