Pekan yang Sibuk: Sorotan Pada Fed, Geopolitik dan Rupiah

Fetry Wuryasti
27/11/2018 11:25
Pekan yang Sibuk: Sorotan Pada Fed, Geopolitik dan Rupiah
(ANTARA)

PASAR finansial pekan ini akan sangat sibuk. Investor menghadapi isu ketegangan dagang AS-Tiongkok yang berkelanjutan, perkembangan Brexit, dan banyak risiko geopolitik lainnya.

Pasar saham dan mata uang global akan sangat dipengaruhi oleh geopolitik dan pertemuan G20 akan sangat menjadi perhatian. Dolar AS memiliki ruang untuk tetap berkibar karena ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan permintaan safe haven di tengah ketidakpastian seperti ini.

Di Inggris Raya, prospek Poundsterling bergantung pada bagaimana respons Parlemen terhadap kesepakatan Brexit Theresa May. Harga minyak di jangka pendek hingga menengah mengarah ke bawah karena meningkatnya pasokan global dan isyarat melambatnya permintaan.

Kalender ekonomi Indonesia relatif kosong pekan ini. Data Uang Beredar (M2) bulan Oktober dijadwalkan untuk dirilis pada hari Jumat (30/11). Seperti mata uang pasar berkembang lainnya, Rupiah sepertinya akan tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal pekan ini.

Berfokus pada aspek teknikal, rupiah memiliki ruang untuk menguat terhadap Dolar pekan ini apabila USD-IDR berhasil ditutup di bawah 14.500.

Beralih dari topik Indonesia, hasil rapat dewan gubernur bank sentral AS (FOMC) akan menjadi perhatian pada hari Kamis (29/11). Investor akan mengetahui apakah Federal Reserve mengkhawatirkan penurunan harga aset saat hasil rapat November dirilis.

Apabila hasil rapat tidak menunjukkan bahwa Fed khawatir, maka pasar dapat menilai level kekhawatiran Fed terkait penurunan harga aset di kesempatan lain karena banyak anggota FOMC yang memiliki hak suara yang dijadwalkan untuk berbicara pekan ini, termasuk Ketua Dewan Gubernur Fed Jay Powell.

“Pada saat ini, saya merasa para pengambil kebijakan moneter belum terlalu khawatir karena tingkat pengangguran mendekati level terendah dalam 50 tahun dan inflasi mendekati level target,” ujar oleh Lukman Otunuga, Research Analyst FXTM, Selasa (27/11).

 

Baca juga: Analis: Pelemahan Rupiah Wajar setelah Mengalami Apresiasi

 

Walau begitu, kemungkinan melambatnya laju pengetatan kebijakan moneter semakin tinggi, dan ini tergambar dalam FedWatch Tool CME yang menunjukkan bahwa investor mengantisipasi peluang 76% kenaikan suku bunga di bulan Desember, dan hanya satu kali kenaikan lagi di tahun 2019, tidak seperti tiga kali kenaikan yang diperkirakan oleh Federal Reserve.

Walau Fed adalah faktor penting dalam memulihkan kepercayaan, namun hubungan yang lebih baik antara AS dan Tiongkok mungkin lebih berpengaruh besar dalam memperbaiki sentimen. Rapat antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada pertemuan G20 mendatang yang akan dimulai pada 30 November dapat memberi gambaran mengenai arah pasar berikutnya.

Apabila kedua belah pihak setuju untuk mengurangi ketegangan dan mencari kerangka kerja untuk mengatasi ketegangan dagang saat ini, maka pasar saham mungkin akan mengalami relief rally. Namun demikian, ada peluang besar bahwa situasi akan bergerak ke arah semakin buruk, jadi volatilitas sepertinya akan tetap tinggi selama beberapa hari mendatang.

Trader Poundsterling tidak terlalu bersemangat menanggapi kesepakatan Brexit yang akan ditandatangani di akhir pekan. Mereka paham bahwa perjuangan sesungguhnya baru akan dimulai. GBPUSD tetap mendekati level terendah 2018 di hari Senin, mengisyaratkan bahwa pasar meragukan bahwa kesepakatan ini akan dapat disetujui oleh Dewan Rakyat Inggris Raya.

Ada banyak berita buruk yang saat ini sudah terefleksikan di harga Poundsterling, namun dapat semakin buruk jika kesepakatan ini ditolak oleh Parlemen. Jadi, risiko masih tetap condong ke arah bawah. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya