Penerapan T+2 Tarik Minat Investor Asing

Fetry Wuryasti
27/11/2018 05:15
Penerapan T+2 Tarik Minat Investor Asing
(ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

BURSA Efek Indonesia (BEI) menyampaikan implementasi penyelesaian transaksi efek dari tiga hari (T+3) menjadi dua hari (T+2) sesuai dengan praktik bursa di dunia sehingga bisa mendorong minat asing berinvestasi di dalam negeri.

"Seiring dengan kemajuan teknologi dan perkembangan, BEI menyesuaikan praktik yang diterapkan oleh bursa-bursa di dunia," ungkap Direktur Utama BEI Inarno Djajadi di Jakarta, kemarin.

Saat ini, lanjut dia, negara-negara dari kawasan Eropa, Asia, dan Amerika sudah mulai mempercepat siklus penyelesaian transaksi dari T+3 menjadi T+2. "Penyesuaian dengan bursa dunia itu, tentu bagi BEI, dapat menarik investor asing," katanya.

Inarno menambahkan, implementasi penyelesaian transaksi T+2 juga dapat mendorong peningkatan efisiensi proses penyelesaian, likuiditas pasar yang lebih tinggi, pemanfaatan dana yang lebih cepat, hingga penurunan risiko pasar secara keseluruhan. "Selain itu, dapat meningkatkan efisiensi dan banyak memberikan manfaat kepada investor," katanya seperti dikutip dari Antara, kemarin.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menerangkan implementasi transaksi bursa T+2 akan mendorong likuiditas pasar saham di dalam negeri lebih meningkat. "Likuiditas itu yang kami jaga. Bagi owner, itu cukup menjamin. Jadi, jika barang atau investasi kita likuid, semakin lebih mudah memonetisasi instrumen atau barang yang kita miliki menjadi uang," katanya.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen menambahkan, sebagai landasan hukum pemberlakuan T+2, OJK telah menerbitkan Peraturan OJK Nomor 21/POJK.04/2018 tentang Waktu Penyelesaian Transaksi Bursa.

Ia juga berharap program percepatan transaksi bursa T+2 bisa mengembangkan pasar modal sehingga bisa berdaya saing global serta memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional.

Manajemen risiko

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo menyebutkan saat ini BEI akan memfokuskan pada sosialisasi terhadap pelaku pasar internasional. Pasalnya baru sosialisasi domestik yang sudah dianggap berjalan baik.

"Sosialisasi ini saya rasa sudah cukup baik untuk domestik, tetapi mungkin saja ada di asing yang terlewat. Mereka memiliki custody di beberapa negara. Jadi, ada kekhawatiran, mungkin dari pihak asing yang karena perbedaan waktu, infonya tidak sampai ke mereka," ujarnya.

Selain itu, Laksono mengakui, BEI masih mengkhawatirkan potensi gagal serah yang bisa terjadi saat hari penyelesaian transaksi (settlement) pada Rabu (28/11) mendatang. Pada hari itu, terjadi dua settlement, yakni untuk perdagangan Jumat (23/11) dan Senin (26/11) ini.

Namun, sebagai bentuk manajemen risiko, Laksono menyebutkan BEI telah mengaktifkan pinjam-meminjam efek (securities lending and borrowing), menyiapkan dana pensiun dan asuransi yang besar untuk pinjam-meminjam efek, serta meminta bantuan kepada lembaga pemegang saham institusi besar untuk membantu di pasar tunai. "Tentunya ini terlaksana jika terjadi gagal serah akibat kurangnya efek yang tersedia di pasar saat settlement," pungkas dia.

Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI kemarin ditutup menguat seiring dengan antisipasi investor atas fenomena window dressing menjelang akhir tahun. IHSG BEI menguat 16,57 poin, atau 0,28%, menjadi 6.022,77. Kelompok 45 saham unggulan (indeks LQ45) bergerak naik 3,12 poin atau 0,33% menjadi 962,94. (E-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya