BPS Tegaskan Datanya Sesuai Kondisi Lapangan

Nur Aivanni
24/11/2018 16:13
BPS Tegaskan Datanya Sesuai Kondisi Lapangan
(Ist)

MENJELANG pemilihan presiden tahun 2019, isu seputar ekonomi menjadi bahan perbincangan pasangan calon. Salah satu isu yang sempat menjadi bahan perbincangan adalah mengenai angka kemiskinan di Indonesia.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menegaskan bahwa pihaknya dalam menyajikan data akan tetap independen dan objektif. Ia menilai adalah hal yang wajar bila pihak-pihak terkait akan menggunakan data-data untuk kepentingan mereka di tahun politik.

"Tapi BPS akan tetap independen dan objektif," katanya, di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (24/11).

Dalam menyajikan data, katanya, pihaknya akan menyampaikan data sebagaimana yang ada di lapangan apakah itu sebuah pencapaian ataupun pekerjaan rumah yang harus dibenahi oleh pemerintah.

Untuk diketahui, angka kemiskinan sempat menjadi bahan perbincangan elite politik dimana Calon Presiden Prabowo Subianto menyinggung mengenai angka kemiskinan di Indonesia. Ketua Umum Partai Gerindra tersebut menyampaikan bahwa 99% orang Indonesia hidup pas-pasan. Angka tersebut, klaimnya, diambil dari data World Bank atau Bank Dunia.

Sementara itu, pihak pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla pun menyampaikan bahwa pemerintah telah berhasil menurunkan angka kemiskinan hingga satu digit, yakni 9,82%. Angka tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh BPS.

"Bahwa sekarang ada pencairan Bansos, banyak juga program-program lainnya yang bagus, tapi juga banyak PR yang harus dikerjakan. Jadi ketika kita baca data statistik, harusnya jauh lebih utuh tidak hanya merefer ke 9,82, tapi kenapa bisa menurun jadi 9,82 atau masih PR-PR yang tadi. Kalau BPS akan tetap objektif, tidak akan kita ke salah satu pihak," tuturnya.

Lebih lanjut, terkait adanya data yang dibenturkan antara data BPS dengan Bank Dunia Suhariyanto mengatakan bahwa data yang diambil oleh Bank Dunia juga berasal dari BPS.

"Kalau World Bank mau menganalisis kemiskinan di Indonesia datanya yang dipakai adalah (data) BPS, karena dia ngga punya data sampai level provinsi apalagi kabupaten. Data World Bank hanya digunakan untuk perbandingan internasional," pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya