Penjualan Motor Stagnan Tahun Depan

Yanurisa Ananta
22/11/2018 00:30
Penjualan Motor Stagnan Tahun Depan
(FOTO ANTARA/Andika Wahyu)

KONDISI perekonomian nasional yang tidak jauh berbeda dengan tahun ini membuat penjualan sepeda motor tahun depan akan stagnan di kisaran 6,2 juta hingga 6,3 juta unit. Direktur Keuangan PT Astra Honda Motor (AHM)  Erick Tjahjadi Sadikin menjelaskan pasar sepeda motor tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi.

Diakuinya, tiga tahun terakhir pasar sepeda motor terus turun. Adanya perbaikan harga komoditas diharapkan dapat mengatrol penjualan sepeda motor AHM sehingga sesuai dengan target di kisaran 4,5 juta hingga 4,7 unit motor.

“Selama pertumbuhan ekonomi bisa dijaga di level sekarang (5%), kita memprediksi pasar sepeda motor kembali 6,2 juta-6,3 juta unit atau flat tidak berubah,” jelas Erick di Jakarta, kemarin.

Adanya perbaikan harga komoditas diharapkan dapat mengatrol penjualan sepeda motor AHM se­hingga sesuai dengan target di kisaran 4,5 juta hingga 4,7 juta mo­tor. Hingga Oktober 2018 ini, volume sepeda motor sudah mencapai 3,9 juta unit.

Di sisi lain, peningkatan harga komoditas, seperti batu bara dan crude palm oil (CPO),  membuat pen­jualan lebih banyak di luar Pu­lau Jawa daripada tahun lalu. Penjualan sepeda motor di Sumatra mengalami pertumbuhan sekitar 15%, Sulawesi 10%, Papua 10%, bahkan Kalimantan tumbuh 30%.

“Jadi, salah satu yang mendukung itu harga komoditas yang baik, selain memang tahun ini se­cara total kondisi pilpres kita harapkan bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Rendahnya uang muka pembelian sepeda motor juga ternyata tidak membuat pertumbuhan penjualan sepeda motor naik. Pasalnya perusahaan pembiayaan (leasing) juga harus menjaga portfolio kredit supaya tetap sehat.

Suku bunga acuan yang dipatok Bank Indonesia (BI) juga menjadi perhatian produsen kendaraan dan para perusahaan pembiayaan agar cicilan yang harus dibayarkan konsumen tidak terlalu tinggi. “Tentunya kalau kenaikan signifikan, (suku bunga) pasti akan ada dampaknya.” tandasnya.

Pengetatan impor
Kebijakan pengetatan impor yang diberlakukan pemerintah juga tidak berpengaruh signifikan terhadap sektor otomotif. AHM  dan PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) menyatakan masih bisa mengendalikan kinerja di tengah pengetatan impor.

General Manager Sales Division PT Isuzu Astra Motor Indonesia Yohanes Pratama mengatakan porsi impor komponen masih sebesar 50%-60%. IAMI lebih terdampak pada BBN-KB (bea balik nama kendaraan bermotor) karena terkait  dengan nilai jual kendaraan bermotor (NJKB).

Guna menghindari ketergantung­an dengan impor, IAMI juga tengah mengembangkan produksi suku cadang lokal (localization). Untuk meningkatkan penggunaan su­ku cadang lokal itu, IAMI sudah be­kerja sama dengan 200 lebih pemasok. Pihaknya juga tengah men­cari tahu suku cadang apa saja yang bisa dilokalisasi.

“Lokalisasi sih maunya kita bi­­sa sampai 60%-70%. Kita terus lakukan studi untuk menaikkan lo­kalisasi­nya karena nanti kaitannya dengan (penguatan) dolar Amerika Serikat dan Yen,” tandas Yohanes.

Saat ini tingkat lokalisasi Isuzu baru mencapai 40%. Dengan meningkatkan lokalisasi, IAMI tidak akan terdampak besar terhadap penguatan nilai tukar mata uang lain. (E-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya