Pertumbuhan Penjualan AHM Diprediksi Stagnan Di 2019

Yanurisa Ananta
21/11/2018 17:43
Pertumbuhan Penjualan AHM Diprediksi Stagnan Di 2019
(ANTARA FOTO/Audy Alwi)

PT Astra Honda Motor (AHM) memprediksi pertumbuhan penjualan sepeda motor stagnan di tahun 2019. Hal itu seiring dengan pertumbuhan industri sepeda motor yang turut diprediksi stagnan di angka volume 6,2 juta-6,3 juta unit tahun depan. Sehingga, volume penjualan AHM diprediksi mencapai 4,6 juta-4,7 juta unit tahun depan atau tidak jauh dari target akhir tahun ini sebesar 4,5 juta-4,7 juta unit.

Direktur Keuangan PT AHM Erick Tjahjadi Sadikin menjelaskan pasar sepeda motor tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi. Diakuinya, tiga tahun terakhir pasar sepeda motor terus turun. Dirinya berharap perbaikan harga komoditas yang terjadi saat ini akan memperbaiki penjualan AHM hingga akhir tahun ini.

"Untuk 2019 salah satunya mengenai volatilitas mata uang di mana terjadi penguatan mata uang dolar. Tapi selama pertumbuhan ekonomi bisa dijaga di level sekarang (5%) kita memprediksi pasar sepeda motor kembali 6,2 juta-6,3 juta unit atau flat tidak berubah," jelas Erick di Jakarta, Rabu (21/11).

Baca juga: Pemerataan Listrik Ikuti Jejak BBM Satu Harga, Jangkau 3T

Volume sepeda motor tahun ini dari AHM diperkirakan bisa mencapai 4,6 juta-4,7 juta unit naik dari volume tahun 2017 sebesar 4,38 juta unit. Adapun hingga Oktober 2018 ini, volume sepeda motor sudah mencapai 3,9 juta unit.

Peningkatan harga komoditas, seperti batubara dan crude palm oil (CPO) justru membuat penjualan lebih banyak di luar Pulau Jawa dibanding tahun lalu. Penjualan sepeda motor di Sumatera mengalami pertumbuhan sekitar 15%, Sulawesi 10%, Papua 10%, bahkan Kalimantan tumbuh 30%.

"Jadi salah satu yang mendukung itu harga komoditas yang baik, selain memang tahun ini secara total kondisi Pilpres kita harapkan bisa berjalan dengan baik," ujarnya.

Rendahnya uang muka pembelian sepeda motor ternyata tidak membuat pertumbuhan penjualan sepeda motor naik. Pasalnya, perusahaan pembiayaan (leasing) juga harus menjaga portfolio kredit supaya tetap sehat.

"Jadi tidak bisa serta merta begitu kredit murah langsung akan mengangkat penjualan. Kita harus melihat kembali kualitas kreditnya," ungkapnya.

Suku bunga acuan yang dipatok Bank Indonesia (BI) juga menjadi perhatian produsen kendaraan dan para perusahaan pembiayaan agar cicilan yang harus dibayarkan konsumen tidak terlalu tinggi.

"Tentunya kalau kenaikan signifikan pasti akan ada dampaknya." tandasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya