Pasar Berharap Hasil Pertemuan Presiden AS dan Tiongkok

Fetry Wuryasti
17/11/2018 15:55
Pasar Berharap Hasil Pertemuan Presiden AS dan Tiongkok
(ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin)

BANK Indonesia baru saja menaikkan suku bunga kebijakan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 6%. Keputusan ini diambil setelah melihat hasil asesmen rapat dewan gubernur (RDG) akan gambaran ekonomi global.

Ekonomi global masih akan diperkirakan tumbuh pada kisaran 3,7% dengan bias ke bawah karena ada kecenderungan pertumbuhan negara di luar AS akan melambat. Sedangkan kekuatan ekonomi AS masih tinggi untuk menopang pertumbuhan perekonomian global.

"Artinya masih akan ada kecenderungan aliran modal mengalami perlambatan ke negara emerging market. Bahkan di beberapa negara berkembang masih akan terjadi outflow . Ketidakpastian risiko dari negara berkembang masih cukup tinggi. Masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate) dengan probabilitas yang cukup besar akan terjadi bulan Desember ini," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo, di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (17/11).

Masalah ketidakpastian, risiko, dan tekanan di pasar keuangan akan menunggu kepada hasil pertemuan antara Presiden AS dan Presiden Tiongkok di akhir November 2018, membahas masalah perdagangan. Pasar mengharapkan adanya hasil positif dari pertemuan, yang nanti akan mempengaruhi kondisi pasar global, terutama pasar keuangan.

Hasil ini sudah diindikasikan selama dua minggu terakhir gambaran hasil positif itu akan terjadi. Dampaknya, di negara berkembang terjadi aliran modal masuk. Ini yang membantu di domestik Indonesia dari aliran modal masuk di saham, surat utang negara dan obligasi perusahaan.

Ke depan, secara global mulai 2019 negara maju akan melakukan kebijakan moneter normalisasi, karena inflasi di negara tersebut beranjak naik mendekati level netral mereka. Ketika inflasi tinggi, suku bunga kebijakan mereka akan dilakukan penyesuaian.

Saat pertumbuhan ekonomi sudah mendekati pertumbuhan potensialnya, kesenjangannya akan semakin tipis untuk tidak menekan kepada inflasi. Saat pertumbuhan ekonomi suatu negara sudah berada di atas angka potensialnya, mereka cenderung akan menaikkan suku bunga karena harga cenderung naik.

"Maka negara berkembang akan melakukan antisipasi," tukas Dody. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya