Kebijakan BI dan Pemerintah Dorong Penguatan Rupiah

(try/E-2)
16/11/2018 22:45
Kebijakan BI dan Pemerintah Dorong Penguatan Rupiah
(ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

PADA perdagangan kemarin sore, rupiah kembali terapresiasi sebesar 0,36% dan berada di level 14.611,5 per dolar AS dari penutupan sehari sebelumnya di level 14.665.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan penguatan nilai tukar tersebut karena mekanisme pasar. “Artinya pasar melihat bahwa kebijakan moneter Indonesia prudent, hati-hati, dan menjaga defisit ekspor dan impor barang dan jasa itu sehingga mereka memberikan apresiasi kepada aset-aset Indonesia,” ujar Mirza,  Jumat (16/11).

Selain, kata dia, pasar juga melihat kebijakan fiskal yang konservatif dengan menurunkan defisit fiskal di tahun depan menjadi 1,8% dari PDB.

“Ini menunjukkan bahwa pemerintah dari sisi fiskal itu juga berhati-hati. Tentu juga reformasi struktural, paket-paket kebijakan yang diumumkan pemerintah untuk terus membuat  kemudahan berusaha atau ease of doing bussiness membaik . Hal-hal itu diterima pasar dengan baik.”

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan penguatan rupiah pada bulan ini dipengaruhi aliran masuk modal asing. Masuknya modal asing tersebut, menurutnya, dipicu kondisi perekonomian domestik yang tetap kondusif, kebijakan pendalaman pasar keuangan, dan pengaruh sentimen positif dari hasil pemilu sela di AS, serta sempat meredanya ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok.

Aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik terjadi pada semua jenis aset, termasuk ke pasar saham.

“Sampai 14 November 2018, secara year to date rupiah terdepresiasi 8,25% atau lebih lebih baik dari Turki, Afrika Selatan, India, dan Brasil,” kata Perry, Kamis (15/11).

BI sendiri baru saja menaikkan suku bunga (BI 7-Day Reverse Repo Rate) sebesar 25 bais poin (bps) dari 5,75% menjadi 6%. Dirut Bank Mandiri Kartika Wiojoatmodjo menilai kebijakan itu tepat sesuai dengan prinsip front loading dan ahead the curve BI untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga AS pada tahun depan.

Menurutnya, peningkatan suku bunga BI diperlukan untuk menjaga portofolio masuknya arus modal asing yang saat ini mulai membaik sehingga memicu penguatan rupiah. “Mudah-mudahan penguatan rupiah bisa terus berlanjut sampai tahun depan,” ujarnya. (try/E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya