Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Indonesia saja menaikkan suku bunga kebijakan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps dari 5,75% menjadi 6%. Maka suku bunga deposit facility dan lending facility juga ikut naik masing-masing menjadi 5,25% dan 6,75%.
Langkah ini dilakukan untuk menurunkan defisit transaksi berjalan ke batas aman dan membuat aset Indonesia menjadi lebih menarik bagi investor asing.
Dirut Bank Mandiri Kartika Wiojoatmodjo mengatakan kenaikan suku bunga ini tepat sesuai dengan prinsip front loading dan ahead the curve Bank Indonesia, untuk antisipasi kenaikan suku bunga AS di 2019.
"Karena kita tau bank sentral AS The Fed akan menaikan suku bunga acuan mereka sebanyak dua sampai tiga kali, dan memang kita harus menjaga defisit transakso berjalan ( CAD) kita agar akhir tahun bisa turun di bawah 3% atau mendekati," ujar Tiko di Jakarta,Jumat (16/11).
Tiko melihat peningkatan suku bunga ini diperlukan untuk menjaga portofolio inflow atau arus modal asing masuk yang saat ini mulai membaik pada pasar obligasi dan equity. Ini diikuti dengan berangsurnya penguatan rupiah. Diharapkan apresiasi rupian bisa terus berlanjut sampai tahun depan.
Penyesuaian suku bunga kredit perbankan terhadap kenaikan suku bunga acuan BI ,kata Tiko,masih sangat minimum di 2018. Pnyesuaian bunga kredit mungkin akan lebih signifikan dilakukan perbankan mulai Januati nanti.
"Kami akan melihat kemampuan bayar nasabah maupun kemampuan pertumbuhan kredit juga. Kami ingin melihat kalau bunga kredit dinaikkan sekian basis poin dampaknya ke pertumbuhan dan ke kemampuan bayar seperti apa,"
Sebab per segmen akan berbeda kebutuhan menaikkan bunga kredit dan kemampuan bayar nasabah. Segmen konsumer seperti KPR dan kepemilikan mobil (KPM) akan lebih cepat naik. Sedangksn segmen UMKM belum akan dinaikkan bunga kreditnya.
Meski Bank Mandiri melihat pertumbuhan kredit di tahun depan akan lebih menantang dari 2018 akibat likuiditas yang mulai mengetat karena suku bunga naik,dan mungkin diikuti kenaikan inflasi. Mereka tetap konservatif bahwa pertumbuhan kredit 2019 akan flat di level 11-12%. Ini berbeda dengan pernyataan OJK yang optimistis kredit bisa tumbuh di 13%.
"Kami harus lihat tahun depan harus apakah permintaan konsumer akan stabil atau tidak dengan kenaikan bunga. Mungkin demand akan turun. Jadi kami melihat peningkatan pertumbuhan kredit tahun ini ke tahun depan stagnan di level 11-12%,"
Pada kondisi tersebut, perbankan harus menjaga agar likuiditas jangan terlalu ketat. Saat ini pun rasio kredit terhadap DPK (LDR) sudah tinggi,di 94% secara nasional. Bank ingin menjaga agar LDR di 92%.
"Mungkin tahun 2020 nanti kalau dana masyarakat tumbuh lebih besar mungkin kredit bisa lebih agresif," tukas Tiko. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved