Penyaluran KPR Subsidi Tetap Tumbuh di 2019

Yanurisa Ananta
15/11/2018 23:10
Penyaluran KPR Subsidi Tetap Tumbuh di 2019
(ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

PENYALURAN kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi atau fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) tetap tumbuh meski sektor properti diprediksi akan melambat pada tahun depan. Hal itu disebabkan pangsa pasar produk KPR FLPP, yakni generasi milenial, masih terus berkembang.

Wakil Eksekutif Presiden Bidang Kredit Konsumer Bank Mandiri Ignatius Susatyo Wijoyo menyampaikan pertumbuhan KPR FLPP dengan harga Rp300 juta-Rp500 juta masih akan tumbuh hingga 200%.

“Harga rumah Rp500 juta, tumbuhnya 200%. Untuk harga rumah sekitar Rp500 juta-Rp1 miliar, masih tumbuh, tetapi tidak sekencang yang FLPP (KPR subsidi), cenderung stagnan. Memang agak slow down. Untuk harga rumah di atas Rp2 miliar bahkan cenderung negatif,” ung­kap Ignatius, di Jakarta, Kamis (15/11).

Secara total, lanjut dia, pertumbuhan penyaluran kredit mungkin akan flat. Pasarnya tetap ada, tetapi lebih untuk segmen tertentu. KPR FLPP disebut ma­sih akan tetap menjadi primadona karena usia milenial semakin banyak.

Sayangnya, menurut Ignatius, gene­rasi milenial saat ini lebih rela menyisih­kan uang mereka untuk gaya hidup. Pa­dahal, apabila dikalkulasi, jumlah uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup sama dengan biaya mencicil rumah yang dibutuhkan mereka di masa depan.

Guna menangkap peluang itu, kalang­an perbankan seperti Bank Mandiri menawarkan KPR tanpa uang muka (down payment) yang diklaim cocok untuk generasi milenial.

“Jadi, kami siapkan khusus nasabah payroll Mandiri, kalau mau ambil KPR, tidak bayar DP,” ujar Ignatius.

Mengenai bunga kredit pada tahun depan, Ignatius mengakui masih akan menyesuaikan dengan suku bunga yang dipatok Bank Indonesia (BI). Menurut dia, kenaikannya diprediksi tidak akan hingga 1% pada tahun depan. Paling ti­dak, gerakan kenaikan suku bunga ha­nya 25-50 basis poin.

“Meski begitu, kenaikan suku bunga bukan hal sensitif bagi KPR FLPP. Mereka lebih sensitif terhadap approval. Kecuali rumah Rp2 miliar, itu baru bu­nganya besar. Kalau harga rumah Rp500 juta, selisih bunga dengan 50 bps tidak terlalu besar,” imbuhnya.

Lokomotif ekonomi

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Realestat Indonesia (REI) Bambang Eka Jaya menyampaikan pasar FLPP merupakan pasar yang tidak terbatas. Selain untuk kebutuhan dasar, properti merupakan instrumen investasi pilihan terbaik. Meski akan mengalami pelambatan pa­da tahun depan, sektor properti akan tetap menjadi lokomotif ekonomi In­donesia.

“Properti adalah lokomotif di Indonesia karena begitu properti bergerak, lebih dari 140 industri terkait ikut ber­ge­rak. Bukan cuma pabrik semen, besi, bahkan gorden, lampu, kulkas, mobil, dan motor,” katanya.

Di Singapura, lanjut Bambang, FLPP pun menjadi tanggung jawab pemerintah. Di Indonesia FLPP dilakukan sebagai bisnis. Di Indonesia, sebesar 70% pengembang ialah pengembang FLPP. “Itu menunjukkan potensi FLPP masih akan ada. Di tingkat dunia pun, kita gaungkan FLPP itu.” pungas Bambang.

Bank Mandiri dan REI akan mengge­lar pameran perumahan bertajuk REI Mandiri Property Expo. Pameran akan berlangsung besok hingga 25 November 2018 di Jakarta Convention Center (JCC).
Pameran diikuti 40 pengembang dengan total 125 proyek perumahan. (E-3)    TAICHING --- Pertumbuhan penyaluran KPR bersubsidi atau KPR FLPP pada tahun depan akan menjadi primadona karena usia milenial semakin banyak. (==/E-?)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya