Impor Tumbuh 23,6%, Menperin Minta Industri Pacu Produksi

Yanurisa Ananta
15/11/2018 17:27
Impor Tumbuh 23,6%, Menperin Minta Industri Pacu Produksi
(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

BADAN Pusat Statistik (BPS) merilis data impor selama Oktober 2018 tumbuh 23,66% (year-on-year) mencapai USD17,62 miliar. Pertumbuhan impor itu lebih kencang dibanding pertumbuhan ekpor yang hanya tumbuh 3,59% secara tahunan.

Menanggapi ini, Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan industri harus lebih memacu produktivitas lebih tinggi lagi. Dengan produktivitas tinggi akan lebih banyak barang yang bisa diekspor. Terlebih, di beberapa sektor industri memang impor masih diperlukan.

"Kita bukan rezim menolak impor, tetapi kita mengurangi impor karena bahan baku ada yang bisa (diproduksi) di dalam negeri ada yang tidak bisa, jadi tentu yang paling penting kita mendorong (produktivitas) agar neraca positif," tutur Airlangga di Gedung Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kamis (15/11).

Baca juga:Sejak Januari, Impor Jagung Capai 502 Ribu Ton

Berdasarkan data BPS, impor migas saat ini senilai USD2,91 miliar, sedangkan impor non-migas USD14,71 miliar. Kepala BPS Suhariyanto menyebut, impor paling kencang terjadi pada barang modal, yakni 28,58% (yoy). Adapun impor barang konsumsi meningkat 20,04% dan bahan baku/ penolong tumbuh 23,10%.

Saat ini, kata Airlangga, industri di Indonesia masih belum bisa lepas dari kegiatan importasi. Misalnya, impor bahan baku penolong pada industri otomotif karena tidak semua perusahaan sanggup membuat bahan baku sendiri. Di industri otomotif, lanjut Airlangga, 90% bahan baku penolong masih impor.

"Ya kalau bahan baku penolong itu tetap diperlukan karena tidak semua mempunyai economical scale dibuat di Indonesia. Jadi, seperti otomotif itu kira-kira 90%," ungkapnya.

Untuk itu, lanjut Airlangga, industri harus mendorong produktivitas agar lebih banyak barang yang bisa diekspor dan berdaya saing. Airlangga juga menjabarkan pihaknya tengah mendorong produksi pada industri petrochemical dengan meresmikan pabrik synthetic rubber (SBR) bulan ini. Selain itu juga, akan ada groundbreaking dari Lotte Chemical yang memiliki nilai investasi sebesar USD3,5 miliar. "Jadi ini terus kita pacu karena sebagian akan (digunakan) untuk ekspor," ujarnya.

Dari data BPS juga diketahui terjadi defisit pada neraca perdagangan di bulan Oktober hingga mencapai USD1,82 miliar. Ekspor yang tumbuh 3,59% secara tahunan kalah cepat dengan pertumbuhan impor sebesar 23,6%. Airlangga menyatakan, impor merupakan hal yang wajar dilakukan selama untuk barang modal.

Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar, memprediksi kenaikan angka impor itu akan mempengaruhi purchasing managers index (PMI) bulan November. Namun, Dari sisi kinerja juga masih akan mengalami perbaikan.

"Pasti akan lebih baik di atas. Akan lebih baik. Kita juga akan optimistis bahwa masih ada perbaikan dari sisi kinerja." ungkapnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya