Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KINERJA ekspor pada Oktober tercatat mengalami pertumbuhan 5,87% dari bulan sebelumnya yakni dari US$14,92 miliar menjadi US$15,8 miliar.
Namun, sayangnya, peningkatan ekspor juga diikuti dengan peningkatan impor yang jauh lebih tinggi mencapai 20,6%. Impor pada Oktober tercatat US$17,62 miliar, melompat jauh dari bulan sebelumnya yang hanya US$14,61 miliar.
Dengan demikian, Indonesia, pada bulan kesepuluh 2018, mengalami defisit neraca perdagangan US$1,82 miliar.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyebutkan impor nonmigas pada Oktober mencapai US$14,71 miliar, lebih besar dari ekspor yang dicatatkan sebesar US$14,32 miliar.
Kecuk, demikian Kepala BPS akrab disapa, mengungkapkan, seperti biasa, pemicu kenaikan impor nonmigas adalah di komponen bahan baku. Impor di subsektor tersebut pada Oktober mencapai US$13,37 miliar, tumbuh 22,59% dari bulan sebelumnya.
Beberapa produk bahan baku yang paling banyak diimpor adalah besi, kedelai, batubara dan gula mentah.
"Impor ini kan untuk bahan baku industri. Kita harap, efeknya akan positif ke industri dalam negeri," ujar Kecuk di kantornya, Kamis (15/11).
Impor sektor barang modal juga mengalami kenaikan sebesar 15,57% dengan nilai US$2,75 miliar.
Adapun, komponen yang didatangkan berupa mesin uap, generator, deck kargo vessel, dan beberapa mesin lainnya.
"Ini juba ditujukan untuk memenuhi kebutuham industri. Kita harap ini akan menyumbang pertumbuhan ekonomi positif di triwulan akhir nanti," lanjutnya.
Satu sektor terakhir, yakni konsumsi, impornya turut naik sebesar 13,28% menjadi US$1,5 miliar pada Oktober.
Baca juga: Kinerja Ekspor Oktober Bertumbuh
Beberapa produk yang banyak didatangkan dari luar negeri adalah buah-buahan seperti anggur dan jeruk mandarin serta pelampung.
Melihat dari porsi masing-masing, sektor bahan baku masih memiliki kontribusi terbesar dalam impor nonmigas yakni mencapai 75,85%. Disusul barang modal 15,63% dan konsumsi 8,52%.
Beralih ke sektor migas, hal serupa terjadi. Angka impor yang dicatat pada Oktober lebih tinggi dari capaian ekspor yakni US$2,91 miliar berbanding US$1,48 miliar.
"Impor migas kita naik karena nilai minyak mentah naik 20,72%, nilai hasil minyak naik 30,46%, gas naik 18,2%. Jadi semua subsektor migas mengalami eskalasi," tutur Kecuk.
Secara akumulasi, total ekspor sejak Januari hingga Oktober tercatat sebesar US$150,8 miliar. Adapun, nilai impor sepanjang periode yang sama mencapai US$156,3 miliar. Dengan demikian, Indonesia masih menderita defisit neraca perdagangan US$5,5 miliar. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved