Penyimpangan Produksi Jagung Melampaui 100%

Andhika Prasetyo
14/11/2018 21:15
Penyimpangan Produksi Jagung Melampaui 100%
(ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)

KETUA Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia Dwi Andreas Sentosa memproyeksikan penyimpangan data produksi jagung Kementerian Pertanian dan data produksi baru yang rencananya akan dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) melalui metode Kerangka Sampel Area (KSA) tahun depan akan mencapai 100%.

Artinya, dengan klaim produksi jagung Kementan sebesar 33 juta ton pada tahun ini, angka sebenarnya diyakini tidak akan lebih dari 16,5 juta ton.

"Tahun depan BPS akan mulai menghitung data produksi jagung. Dipastikan data riil di lapang dengan data Kementan deviasinya akan jauh lebih besar daripada padi. Kemungkinan bisa lebih dari 100%," ujar Dwi Andreas kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.

Ia mengungkapkan prediksi penyimpangan produksi dapat dilihat dari benih yang digunakan untuk keseluruhan produksi jagung.

Dengan luas panen jagung yang diklaim sekitar 5,7 juta hektare (ha) dan asumsi setiap 1 ha diperlukan benih rata-rata 20 kilogram (kg), maka pada tahun ini diperlukan benih jagung sebanyak 108.000 ton. Namun, menurut Dwi, angka benih yang tersebar di kalangan petani tidak mencapai sebanyak itu dan tingkat produktivitasnya pun rendah.

"Akumulasi data belum kami kumpulkan tetapi perusahaan-perusahaan benih jagung menginfokan seperti itu," tuturnya.

Namun, berdasarkan penghitungan Direktorat Jenderal (Ditjen) Tanaman Pangan Kementan, setiap ha lahan jagung hanya memerlukan benih sebanyak 15 kg.

Untuk memenuhi keperluan produksi 5,7 juta ha, berarti dibutuhkan benih sekitar 85 ribu ton.

Sekretaris Ditjen Tanaman Pangan Maman Suherman mengungkapkan, dari total kebutuhan itu, Kementan menyediakan 60 ribu ton benih secara gratis kepada petani.

Penyediaan dilakukan oleh perusahaan produsen benih baik BUMN dan swasta yang kemudian diserap pemerintah dan diberikan kepada petani.

"Sampai saat ini serapan sudah 80%. Sampai akhir tahun kami optimistis tercapai," ujar Maman.

Benih sebanyak 60 ribu ton itu sedianya diproyeksikan untuk luasan lahan 2,8 juta ha. Adapun, sisanya, yakni 2,9 juta ha, masih harus dipenuhi petani secara swadaya.

"Jadi petani beli sendiri benihnya. Itu sudah biasa sejak lama," tuturnya.

Dari sisi luas panen, berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, luas panen per tahun rata-rata meningkat 11,06% dan mencapai 5,7 juta ha pada tahun ini. Pada 2015, luas panen jagung hanya 3,7 juta ha.

Klaim tersebut, menurut Direktur Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika sangat bertolak belakang dengan data BPS jika dilihat dari sisi pelaku usaha tani.

Dilaporkan ada sekitar tambahan luas panen jagung sekitar 1,5 juta ha. Bisa dipastikan lokasi lahan tersebut berada dilokasi yang jauh dari pemukiman penduduk.

"Bukan hal mudah untuk mendapatkan tenaga kerja tani sebanyak itu. Anggap saja asumsi minimal, setiap satu hektar memerlukan tenaga kerja 3 orang. Kalau tambahan luas panen 2 juta ha, berarti perlu tambahan tenaga kerja sebanyak 6 juta orang. Dari mana datangnya tenaga kerja sebesar itu? Laporan BPS, justru menyatakan bahwa setiap tahun jumlah petani dan buruh tani semakin menurun," terangnya.

Tenaga mesin alat mesin pertanian yang selama ini digaungkan Kementan pun dinilai tidak cukup mampu untuk menggarap lahan seluas itu. Karena bagaimanapun, mesin-mesin itu juga membutuhkan peran manusia sebagai operator. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya