Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, untuk menambal defisit transaksi berjalan, salah satu upaya yang dilakukan ialah dengan menggenjot ekspor, termasuk dari sektor kelautan.
“Di neraca perdagangan, migas memang bikin defisit, tapi kalau kita bisa ekspor (nonmigas, termasuk kelautan) lebih banyak lagi, defisitnya bisa tertutup,” ujar Bambang dalam diskusi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Bappenas dalam rangka penyusunan Rancangan Teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu (14/11).
Bambang mencontohkan Thailand yang neraca transaksi berjalannya surplus kendati mereka bukan merupakan negara penghasil minyak.
“Impor minyak yang besar itu mereka tutupi dengan ekspor lebih besar lagi. Salah satu yang jadi kekuatan Thailand itu ialah industri pengolahan makanan dan minum-annya,” kata Bambang.
Menilik industri pengolahan makanan dan minuman di Tanah Air, kata Bambang, sektor tersebut sebagai salah satu sektor andalan karena dari aspek penciptaan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, dan juga ekspornya paling besar.
“Tapi industri ini tidak bisa menciptakan nilai tambah kalau tidak ada input-nya, yakni dari kelautan dan perikanan. Katakanlah olahan makanan laut yang simpel seperti fillet ikan atau udang sampai yang kalengan. Harusnya itu yang bisa jadi dominasi Indonesia. Maksud saya jangan sampai kita punya input-nya, tapi ketika sudah ada nilai tambahnya dikuasai asing,” ujar Bambang.
Kapal asing
Dia juga menyoroti penggunaan kapal asing dalam angkutan kargo yang menjadi salah satu penyumbang defisit transaksi berjalan terbesar dari sektor jasa. Para pelaku ekspor dan impor nasional, kata dia, masih belum banyak menggunakan jasa pelayaran lokal dalam penyelenggaraan perdagangan luar negeri mereka.
Hal itulah, menurut Bambang, yang berkontribusi menggerus devisa negara. “Jadi kita ekspor barang, kita dapat devisa, tetapi kita pakai kapal asing, devisa keluar juga untuk bayar sewa itu,” ujarnya.
Menurut dia, titik persoalan utama berada pada sedikitnya jumlah kapal besar lokal yang memiliki jalur pelayaran langsung ke luar negeri.
“Kapal besar ini belum banyak dimiliki perusahaan-perusahaan Indonesia. Jadi kita bergantung kepada kapal-kapal asing yang memang sudah lama sekali menguasai bidang itu,” tutur Bambang.
Direktur Komersial Pengembangan Bisnis Pelindo II Saptono Irianto mengakui bahwa kapal besar asing memang masih mendominasi pengiriman barang dari Indonesia ke luar negeri ataupun sebaliknya.
Kendati demikian, menurut dia, sekarang sudah banyak kapal kecil dan menengah yang dimanfaatkan dan memiliki jalur perdagangan global.
“Penggunaan kapal besar atau kecil itu bergantung pada apa dan berapa besar yang dikirim. Pengusaha juga melihat ke mana jurusannya. Kalau yang dikirim tidak banyak, masak pakai yang besar. Kalau melalui alur pendek, juga tidak bisa pakai kapal besar, nanti kandas dia,” jelasnya. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved