Pemerintah Upayakan Defisit Transaksi Berjalan Turun di Kuartal IV

Nur Aivanni
11/11/2018 21:00
Pemerintah Upayakan Defisit Transaksi Berjalan Turun di Kuartal IV
(ANTARA)

ASISTEN Deputi Moneter dan Neraca Pembayaran Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Edi Prio Pambudi mengungkapkan bahwa pihaknya telah memproyeksikan bahwa defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) di kuartal III 2018 akan lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya.Hal itu disebabkan oleh dampak perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok dan depresiasi Rupiah. Pada saat yang bersamaan, permintaan domestik untuk pembangunan infrastruktur pun meningkat.

"Pemerintah telah mencoba melakukan langkah untuk menahan tekanan defisit melalui dorongan pemanfaatan komponen dalam negeri seperti B20 dan untuk infrastruktur, menahan impor barang konsumsi, dan mempercepat pemberian insentif pajak untuk investasi," katanya kepada Media Indonesia, Minggu (11/11).

Baca juga: Pacu Investasi tidak Cukup Hanya dengan Revisi DNI

Selain itu, sambungnya, pemerintah juga menunda jadwal pembangunan proyek strategis yang masih terkendala tetapi tetap menjalankan proyek yang sudah berjalan. Hal itu dilakukan agar serapan impor untuk proyek tersebut tidak semakin membebani defisit transaksi berjalan.

Hanya saja, diakuinya, langkah-langkah tersebut tidak bisa langsung dirasakan di kuartal III 2018 ini. "Langkah tersebut memang tidak secara instan mengubah situasi karena memang komponen barang ekspor kita terbatas sementara impor kita meningkat," terangnya.

Selain menjalankan langkah-langkah yang ada tersebut, kata Edi, pemerintah kini juga tengah menyiapkan kebijakan lainnya terkait devisa hasil ekspor dan insentif pajak (super deduction tax). Dengan begitu, harapnya, defisit transaksi berjalan di kuartal IV 2018 bisa menurun.

Lebih lanjut, Edi juga menilai bahwa pelaksanaan impor migas di Pertamina pun perlu diperbaiki. Pasalnya, kata dia, impor migas menjadi salah satu penyebab defisit transaksi berjalan yang signifikan. Pembenahan yang dimaksud adalah terkait pelaksanaan tender.

"Pelaksanaan tender yang lebih efisien. Manajemen stok dan produksinya. Kalau masih belum berubah akhirnya kita justru beli migas saat dolar tinggi tapi tidak bisa borong saat harga murah. Butuh keseriusan tingkat tinggi soal ini," pungkasnya.

Untuk diketahui, Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) di kuartal III 2018 mencapai US$ 8,8 miliar atau sebesar 3,37% dari produk domestik bruto (PDB). CAD kuartal III ini melebar dibandingkan CAD kuartal II 2018 yang sebesar US$ 8 miliar atau 3,02% dari PDB. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya