Ekspor Jagung Sudah Dilakukan Sejak Dahulu

Andhika Prasetyo
08/11/2018 18:46
Ekspor Jagung Sudah Dilakukan Sejak Dahulu
(ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang)

PUSAT Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) menekankan bahwa ekspor jagung bukanlah sebuah keberhasilan yang bisa dibanggakan. Pasalnya, perdagangan jagung ke luar negeri bukan pertama kali terjadi pada tahun ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, ketika Indonesia masih mengimpor jutaan ton jagung, ada sebagian kecil yang diekspor ke negara tetangga.

Direktur Pataka Yeka Hendra Fatika mengungkapkan ekspor jagung merupakan aktivitas yang memang sejak lama telah dilakukan dan masuk ke kegiatan bisnis di kawasan perbatasan.

Pada 2015, ekspor jagung mencapai 313 ribu ton. Padahal, saat itu, Indonesia masih mengimpor sebanyak 3,2 juta ton. Jadi, ketika saat ini ekspor tercatat sebesar 370 ribu ton, menurut Yeka, itu bukanlah suatu hal yang fantastis dan bisa menjadi kebanggaan. Ia pun menilai ada upaya Menteri Pertanian untuk membangun opini bahwa baru tahun ini saja ekspor jagung terjadi.

"Ini tidak ada hubungan dengan swasembada. Ekspor ke negara tetangga hanya kegiatan bisnis biasa di sekitar perbatasan. Yang pasti ekspor ini bukan karena intervensi pemerintah, tetapi memang ada pihak yang kreatif membuat seremonial bertajuk ekspor perdana," ujar Yeka di Jakarta, Kamis (8/11).

Baca juga: Mentan Lepas Ekspor Jagung 60 ribu Ton ke Filipina

Ia juga mempertanyakan sikap Menteri Pertanian yang terus menyuarakan surplus jagung 13 juta ton. Jika benar ada surplus jagung sebanyak itu, menurut dia secara logika pemerintah akan membutuhkan lebih dari 3.000 gudang penyimpanan seluas 1.622 kilometer persegi, seperti milik Perum Bulog di Kelapa Gading, Jakarta. Hal itu tentu jauh dari kenyataan karena Bulog saja hanya memiliki sekitar 4.000 gudang yang utamanya difungsikan untuk memyimpan beras.

"Saat masih ada impor jagung, misalnya di 2015, sekitar 3,2 juta ton, seringkali ada keluhan harga jagung dalam negeri anjlok. Kalau sekarang surplus sampai 13 juta ton, tidak terbayang bagaimana keluhan para petani jagung, bisa-bisa mereka tidak mau tanam jagung lagi di musim berikutnya karena harga pasti anjlok tidak karuan. Tetapi kenyataan yang ada sekarang harga jagung melambung sampai Rp5.300 per kg," jelasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya