Kontribusi UMKM atas PDB Melesat

Andhika Prasetyo
08/11/2018 01:15
Kontribusi UMKM atas PDB Melesat
(ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

PEMERINTAH memperkirakan kontribusi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini bisa tumbuh hingga melebihi capaian tahun lalu sebesar 62%.

Prediksi itu didasarkan pada jumlah pelaku UMKM yang terus meningkat. Pada ta­­hun ini, rasio wirausaha di Indonesia diprediksi mencapai 7% dari total penduduk ke­seluruhan. Sebelumnya pada 2014, rasio wirausaha di Tanah Air baru 1,55%, kemudian meningkat menjadi 1,65% pada 2016, dan bergerak ke 3,1% pada akhir 2017.

“Jumlah UMKM terus bertumbuh, terma­suk dari startup. Itu yang akhirnya memberikan pengaruh terhadap PDB,” ujar Kepala Biro Perencanaan Kementerian Koperasi dan UKM (KUKM) Ahmad Zabadi di Jakarta, Rabu (7/11).

Selain itu, banyaknya acara bertaraf inter­­nasional, mulai Asian Games hingga Annual Meeting IMF-WB pada tahun ini juga menjadi stimulus tersendiri bagi kinerja pelaku UMKM.

“Tidak hanya dalam negeri yang menjadi surga bagi produk-produk UMKM kita, kawasan ASEAN juga menjadi sasaran,” tuturnya.

Ia mengatakan pada tahun lalu terdapat 300 pelaku UMKM binaan Kementeri­an KUKM yang menembus pasar ekspor. Pi­hak­nya juga melihat potensi ada 3.000 UMKM lain­nya yang siap go international.

Kendati kontribusi UMKM terhadap PDB ditargetkan melebihi 62%, Zabadi menilai angka tersebut masih rendah karena pelaku UMKM di Indonesia merepresentasikan 99,9% dari seluruh pebisnis di Tanah Air.

“Artinya 38% kontribusi PDB masih berasal dari 0,01% pelaku usaha besar. Kami harap angka kontribusi UMKM ke depannya akan terus bertambah demi ekonomi berke­adilan dan mendistribusikan kesejahteraan yang lebih merata,” pungkas Zabadi.

Pasar internasional
Asisten Deputi Pertanian dan Perkebunan Kementerian KUKM Victoria Simanungkalit menyatakan pemerintah terus mendorong produk-produk UMKM untuk masuk pasar internasional.

Hal itu dilakukan dengan terus menyelenggarakan pameran di luar negeri sehingga pelaku UKM bisa mengekspor produk-produk mereka di luar negeri.

Berdasarkan data yang diperoleh, pagu anggaran untuk pameran luar negeri pada 2017 sebesar Rp5,3 miliar dengan kontribusi terhadap devisa negara sebesar 12 kali lipat, yakni Rp64,14 miliar.

Pagu anggaran untuk pameran luar negeri pada 2018 sebesar Rp2,1 miliar dengan kontribusi terhadap devisa negara sebesar 30 kali lipat, yakni Rp64,99 miliar.

“Itu artinya pameran ini memiliki potensi. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Pertama, pemerintah harus jeli melihat pasar sasaran, tidak lagi terpaku ke pasar-pasar tradisional, sebagaimana Presiden yang mendorong untuk melihat pasar-pasar baru,” kata Victoria dalam diskusi bertemakan Potensi ekspor di tengah pelemahan rupiah, di Puri Denpasar Hotel, Jakarta, Rabu (7/11).

Selain itu, lanjut Victoria, pihaknya terus mengoptimalkan market intelligence. Dengan begitu, UKM bisa mengakses informasi yang akurat mengenai pasar global.

“Kami juga bekerja sama dengan market place yang ada sehingga produk-produk UKM bisa masuk ke pasar global,” ujar Victoria.

Langkah lainnya, kata dia, pemerintah kini sedang mendorong kampung UKM digital. Hal itu dilakukan karena produk-produk di desa masih kurang sentuhan dan inovasi teknologi. “Dengan kampung UKM digital, produk di desa bisa diproses jadi produk lebih lanjut yang bernilai tambah,” pungkasnya. (Nur/E-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya