ANGKA pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara (income per capita) berkolerasi kuat terhadap penetrasi internet. Semakin tebal isi dompet warga negara, mereka bakal lebih melek internet.
Hal itu tecermin pada survei Pew Research Center terhadap perilaku berinternet masyarakat global di 32 negara maju dan berkembang di seluruh dunia.
"Akses internet ternyata memiliki korelasi dengan pendapatan nasional. Semakin kaya negara dalam konteks angka pendapatan per kapita, semakin banyak penduduk usia produktif mengakses internet," cetus salah satu kesimpulan riset yang dirilis pertengahan Maret 2015 itu.
Lembaga nirlaba yang berbasis di Washington DC Amerika Serikat (AS) itu menyebut penduduk ‘Negeri Paman Sam’ menempati peringkat tertinggi dengan penetrasi internet 87%. Bukan kejutan, memang, karena Bank Dunia merilis AS merupakan negara dengan pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita US$53.143 pada 2013.
Kemudian, penetrasi internet juga kuat di Rusia dan Tiongkok yang memiliki pendapatan per kapita masing-masing US$11.807 dan US$6.094.
Sayangnya lembaga itu tidak meriset sejumlah negara dengan pendapatan kapita terbesar seperti Makau, Luksemburg, dan Singapura.
Indonesia dengan populasi terbesar keempat di dunia rupanya baru terpenetrasi internet 24% saja. Dengan pendapatan per kapita US$3.475, Indonesia hanya lebih besar daripada India (20%), Bangladesh (11%), dan Pakistan (8%).
"Aspek kesejahteraan itulah kuncinya. Internet lebih digemari oleh mereka yang berpendidikan dan mahir berbahasa inggris." Survei tersebut juga mengungkap internet secara resiprokal memiliki pengaruh positif dalam aspek edukatif dan pertumbuhan ekonomi.
"Sekitar 64% mengatakan internet berpengaruh baik pada pendidikan. Sementara itu, 53% melihat pengaruh baiknya pada hubungan antarmanusia dan 52% pada pertumbuhan ekonomi." Pada aspek politik, internet dirasa berpengaruh positif lebih besar ketimbang pengaruh negatifnya, yakni 36% berbanding 30%.
Ironisnya, rata-rata responden global itu merasakan dampak buruk internet bagi moral pengunanya. "Ada 42% meyakini internet berdampak buruk bagi moral dan 29% merasa ada dampak positifnya." (Fathia Nurul Haq/E-4)