Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH didera depresiasi mata uang rupiah hingga menembus Rp15.000 beberapa waktu lalu, kini pengusaha bisa bernapas lega. Pasalnya, nilai mata uang rupiah mulai menguat. Rabu (7/11) hari ini, berdasarkan Jisdor (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) rupiah berada di level Rp14.764 dari hari sebelumnya Rp14.891.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B Sukamdani mengatakan penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) itu menjadi sinyal baik bagi pengusaha dalam negeri. Penguatan rupiah diyakini mampu memberi gairah dan memperkuat kepercayaan pasar.
Baca juga: Penguatan Rupiah Didukung Tumbuhnya Kepastian Ekonomi
"Kemarin kami sempat repot karena cost kita banyak juga barang impor. Utang luar negeri pemerintah juga menggunakan dolar AS. Penguatan rupiah ini berpengaruh signifikan membalikan persepsi bahwa sinyal sudah positif," ungkap Hariyadi saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (7/11).
Pelemahan rupiah akibat sengitnya perang dagang AS dan Tiongkok kemarin, menurut Hariyadi, sempat mempengaruhi hampir semua sektor usaha. Terutama sektor barang konsumsi. Namun, dirinya optimistis bila ketegangan AS-Tiongkok mereda maka rupiah bisa kembali ke level Rp14.000.
Baca juga: Apindo Inisiasi Penggunaan Mata Uang Nondolar Dalam Bertransaksi
Beruntungnya, lanjut Hariyadi, merosotnya performa rupiah beberapa waktu lalu tidak menimbulkan reaksi masyarakat yang berlebihan. Pemilik mata uang asing pun tidak memborong dolar AS secara berjamaah. Diharapkan menguatnya rupiah saat ini menciptakan keseimbangan baru.
"Mudah-mudahan akan ada keseimbangan baru ketika rupiah mampu melangkah ke Rp14.000 ini. Apa yang terjadi di AS itu temporer dan kebijakan Donald Trump juga semoga tidak mengejutkan," tutur Hariyadi.
Namun, tidak seluruh pengusaha bisa bernapas lega. Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi S Lukman menuturkan, posisinya saat ini menjadi dilematis. Penguatan rupiah di satu sisi memberi efek positif untuk beban impor bahan baku, namun menjadi sulit dalam hal ekspor karena pembeli meminta diskon akibat pelemahan rupiah.
"Banyak pembeli yang minta diskon karena pelemahan rupiah. Saat beberapa pelaku memberikan diskon ternyata rupiah menguat lagi. Industri inginnya stabil." tuturnya melalui pesan singkat. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved