Apindo Inisiasi Penggunaan Mata Uang Nondolar Dalam Bertransaksi

Yanurisa Ananta
07/11/2018 15:11
 Apindo Inisiasi Penggunaan Mata Uang Nondolar Dalam Bertransaksi
(Dok. Sampoerna)

ASOSIASI Pengusaha Indonesia (Apindo) berinisiasi untuk menggunakan mata uang selain dolar Amerika Serikat (USD) dalam bertransaksi. Pasalnya, mata uang rupiah terhadap dolar AS sangat rentan bila terjadi gejolak di pasar global. Apindo mendorong pengusaha bertransaksi menggunakan Renminbi dari Tiongkok.

"Apindo inisiasi konversi mata uang dengan mata uang yang diakui internasional lainnya. Misalnya, Renminbi Tiongkok. Kita arahkan ke Renminbi karena transaksi kita ke Tiongkok atau sebaliknya itu besar," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B Sukamdani saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (7/11).

Hariyadi membeberkan, transaksi perdagangan Tiongkok secara total saat ini sebesar USD60 miliar dalam setahun. Adapun nilai impor Tiongkok terhadap Indonesia sebesar USD36 miliar dan nilai ekspor USD28 miliar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah ekspor Indonesia ke Tiongkok sebesar USD2,19 miliar atau sekitar 15,38%dari total ekspor Tanah Air pada Juli 2018. Sedangkan, nilai impor Tiongkok ke Indonesia sebesar USD4,26 miliar atau 27% dari total impor Indonesia pada bulan yang sama.

"Kita sama Tiongkok masih defisit. Makanya kita sedang konnsolidasi dengan para importir dan eksportir untuk pakai Renminbi saja. Mudah-mudahan support," ujar Hariyadi.

Dengan bertransaksi menggunakan mata uang selain dolar AS, diharapkan ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS berkurang. Haryadi menuturkan, cara ini merupakan langkah jangka pendek untuk menstabilkan kondisi dunia usaha yang sempat kerepotan akibat melemahnya rupiah.

Ke depannya, transaksi mata uang selain dolar juga akan dilakukan dengan Jepag, Korea dan Uni Eropa. "Dengan Jepang sebenarnya kita sudah mulai tapi masih sedikit sekali," ujarnya.

Guna kestabilan dunia usaha, Haryadi berharap tidak ada hambatan dari perang dagang antara AS dan Tiongkok. Pasalnya, perang dagang keduanya mengubah tatanan rantai pasokan (supply chain) dunia. Tidak bisa masuknya sejumlah barang ekspor ke AS menyebabkan importir mesti memutar otak mencari negara lain.

"Kalau ini sudah mereda kondisi kita akan lebih baik. Itu pun kalau dari dalam negeri tidak begitu banyak kebijakan yang aneh-aneh." pungkas Hariyadi. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya