Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH melibatkan enam perguruan tinggi negeri dalam pengembangan mobil listrik. Mereka ialah Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada, Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Udayana.
Dari hasil studi dan riset awal yang didorong oleh Kementerian Perindustrian dengan menggandeng Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, industri otomotif, serta kampus tersebut, mobil listrik dinilai mampu menghemat energi hingga 80% ketimbang mobil konvensional yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).
“Berdasarkan penelitian, rata-rata mobil listrik jenis hybrid itu bisa hemat 50 %, sedangkan yang plug-in hybrid bisa lebih hemat lagi hingga 75%-80%,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Final Report 1st Round Electrified Vehicle Comprehensive Research & Study di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, kemarin.
Menurut Menperin, penggunaan mobil listrik ini bisa menghemat BBM hingga dua kali lipat ketimbang saat memakai bahan bakar B20 (campuran biodiesel dengan minyak sawit). “Kalau program B20 saja sudah bisa menghemat sekitar 6 juta kiloliter BBM, dengan hybrid atau plug-in hybrid akan ada dua kali penghematan,” tuturnya.
Airlangga menjelaskan riset dan studi pada tahap pertama ini merupakan laporan dari tiga perguruan tinggi, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Tujuan studi dan riset tersebut ialah membahas karakteristik teknis, kemudahan pengguna, dampak lingkungan, sosial, dan industri, serta kebijakan dan regulasi yang akan ditetapkan ketika teknologi itu sudah berkembang,” ujarnya.
Dalam upaya pengembangan kendaraan listrik, Kemenperin juga telah mengusulkan kepada Kementerian Keuangan mengenai pemberian insentif fiskal berupa tax holiday, bea masuk ditanggung pemerintah, serta pembiayaan ekspor dan bantuan kredit modal kerja untuk pengadaan battery swap.
“Dari sisi fasilitas nonfiskal seperti penyediaan parkir khusus, keringanan biaya pengisian listrik di SPLU hingga bantuan promosi,” ujar Menperin.
Setelah tahap pertama ini, Kemenperin akan melanjutkan laporan hasil riset mobil listrik terkait dengan aplikasi, ke-tahanan, dan ketersediaan infrastruktur.
Tahap kedua akan dilakukan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Udayana yang ditargetkan rampung pada Januari 2019.
“Di tahap kedua, riset yang sama juga akan dilakukan oleh perguruan tinggi selanjutnya. Dengan demikian terjadi integrasi di kampus mulai dari riset sampai dengan aplikasi sehingga ekosistem itu bisa terpetakan di perguruan tinggi. Untuk perpres-nya, rencana-nya akan dikeluarkan pada tahun ini,” jelasnya.
Menristek-Dikti Mohamad Nasir mengatakan secara internal proses studi saat ini sudah selesai. Artinya, tinggal dikolaborasikan dengan industri supaya bisa memanfaatkan inovasi mobil listrik tersebut. “Tidak akan bisa jalan jika tidak ada industri yang akan menggunakan inovasi ini,” ujarnya. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved