6 PTN Dilibatkan Garap Mobil Listrik

Yanurisa Ananta
07/11/2018 04:30
 6 PTN Dilibatkan Garap Mobil Listrik
(MI/Yanurisa Ananta)

PEMERINTAH melibatkan enam perguruan tinggi negeri dalam pengembangan mobil listrik. Mereka ialah Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada, Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Udayana.

Dari hasil studi dan riset awal yang didorong oleh Kementerian Perindustrian dengan menggandeng Kemente­rian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, industri oto­motif, serta kampus tersebut, mobil listrik dinilai mam­pu menghemat energi hingga 80% ketimbang mobil konvensional yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

“Berdasarkan penelitian, rata-rata mobil listrik jenis hybrid itu bisa hemat 50 %, se­dangkan yang plug-in hybrid bisa lebih hemat lagi hingga 75%-80%,” kata Menteri Perin­dustrian Airlangga Hartarto pa­da acara Final Report 1st Round Electrified Vehicle Comprehensive Research & Study di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, kemarin.

Menurut Menperin, penggu­naan mobil listrik ini bisa menghemat BBM hingga dua kali lipat ketimbang saat memakai bahan bakar B20 (campuran biodiesel dengan mi­nyak sawit). “Kalau program B20 saja sudah bisa menghemat sekitar 6 juta kiloliter BBM, dengan hybrid atau plug-in hybrid akan ada dua kali penghematan,” tuturnya.

Airlangga menjelaskan riset dan studi pada tahap pertama ini merupakan laporan dari ti­ga perguruan tinggi, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Tujuan studi dan riset tersebut ialah membahas karakteristik teknis, kemudahan pengguna, dampak lingkungan, sosial, dan industri, serta kebijakan dan regulasi yang akan ditetapkan ketika teknologi itu sudah berkembang,” ujarnya.

Dalam upaya pengembangan kendaraan listrik, Kemenperin juga telah mengusulkan kepada Kementerian Keuangan mengenai pemberian insentif fiskal berupa tax holiday, bea ma­suk ditanggung pemerintah, serta pembiayaan ekspor dan bantuan kredit modal ker­­ja untuk pengadaan battery swap.

“Dari sisi fasilitas nonfiskal seperti penyediaan parkir khusus, keringanan biaya pengisian listrik di SPLU hingga bantuan promosi,” ujar Menperin.

Setelah tahap pertama ini, Kemenperin akan melanjutkan laporan hasil riset mobil listrik terkait dengan aplikasi, ke-tahanan, dan ketersediaan infrastruktur.

Tahap kedua akan dilakukan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Udayana yang di­targetkan rampung pada Januari 2019.

“Di tahap kedua, riset yang sama juga akan dilakukan oleh perguruan tinggi selanjut­nya. Dengan demikian terjadi in­teg­rasi di kampus mulai dari riset sampai dengan aplikasi sehingga ekosistem itu bisa terpetakan di perguruan tinggi. Untuk perpres-nya, rencana-nya akan dikeluarkan pada tahun ini,” jelasnya.

Menristek-Dikti Mohamad Na­sir mengatakan secara inter­nal proses studi saat ini sudah selesai. Artinya, tinggal dikolaborasikan dengan industri supaya bisa memanfaatkan inovasi mobil listrik tersebut. “Tidak akan bisa jalan jika ti­dak ada industri yang akan menggunakan inovasi ini,” ujarnya. (E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya