Data Benih Jagung Meragukan

Andhika Prasetyo andhika
06/11/2018 06:40
Data Benih Jagung Meragukan
( ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) pada tahun ini memproyeksikan produksi jagung mencapai 33 juta ton. Hasil sebesar itu bersumber dari perhitungan lahan seluas 5,7 juta hektare (ha). Artinya, setiap 1 ha lahan mampu menghasilkan rata-rata 5,3 ton pipilan kering jagung.

Berdasarkan penghitungan Direktorat Jenderal (Ditjen) Tanaman Pangan Kementan, setiap hektare lahan jagung memerlukan benih sebanyak 15 kilogram (kg). Untuk memenuhi keperluan produksi 5,7 juta ha, dibutuhkan benih 85 ribu ton.

Sekretaris Ditjen Tanaman Pangan Maman Suherman mengungkapkan, dari total kebutuhan itu, Kementan menyediakan 60 ribu ton benih secara gratis kepada petani.

Penyediaan dilakukan perusahaan produsen benih baik BUMN dan swasta yang kemudian diserap pemerintah dan diberikan kepada petani.

"Sampai saat ini serapan sudah 80%. Sampai akhir tahun kami optimistis tercapai," ujar Maman kepada Media Indonesia, kemarin.

Benih sebanyak 60 ribu ton itu sedianya diproyeksikan untuk luasan lahan 2,8 juta ha. Sisanya, yakni 2,9 juta ha, masih harus dipenuhi petani secara swadaya.

"Jadi, petani beli sendiri benihnya. Itu sudah biasa sejak lama," tuturnya.

Namun, kebenaran data benih jagung itu diragukan Direktur Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika. Yeka memperkirakan kebutuhan benih untuk mencapai produktivitas di atas 5 ton per ha ialah mencapai 20 kg. karena itu, dibutuhkan benih sekitar 108 ribu ton untuk memenuhi keperluan produksi di lahan seluas 5,7 juta ha.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia Dwi Andreas Sentosa. Ia mengatakan angka benih yang tersebar di kalangan petani tidak sebanyak yang diklaim Kementan.

"Akumulasi data memang belum kami kumpulkan, tetapi perusahaan-perusahaan benih jagung menginfokan seperti itu," ujarnya.

Dengan tidak tersedianya benih jagung seperti yang diproyeksikan Kementan, hampir bisa dipastikan produksi jagung tidak sebesar yang diklaim Kementan, yakni 33 juta ton. Bahkan Dwi Andreas memprediksi jumlah deviasi lebih dari 50% proyeksi, yakni sebatas 16,5 juta ton.

Selain dari faktor benih, luasan lahan produksi jagung diragukan. Yeka mengatakan bahwa bila benar ada tambahan luas tanam 2 juta ha dalam dua tahun, dibutuhkan tambahan tenaga 6 juta orang. "Dari mana datangnya tenaga kerja sebesar itu? Laporan BPS justru menyatakan bahwa setiap tahun jumlah petani dan buruh tani semakin menurun," ungkap Yeka.

Masih surplus

Kementan mengaku bahwa produksi jagung nasional 2018 surplus dan telah melakukan ekspor ke Filipina dan Malaysia.

Sekretaris Jenderal Kementan Syukur Iwantoro mengatakan kondisi tingginya harga jagung saat ini disebabkan jauhnya lokasi pabrik pakan dengan sentra jagung. Hal itu membuat proses distribusi membutuhkan biaya yang lebih besar.

Oleh karena itu, Syukur mengatakan impor yang dilakukan bertujuan memenuhi kebutuhan peternak mandiri. "Impor itu hanya bagi yang membutuhkan," jelas Syukur dalam konferensi pers di Gedung Kementan, Jakarta, pekan lalu. (E-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya