Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK pihak menyangsikan pertumbuhan ekonomi yang ada saat ini di kisaran 5% tidak mampu menurunkan angka pengangguran. Namun, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) membalikkan keraguan itu.
BPS menyajikan data bahwa per Agustus 2018, jumlah angkatan kerja sebanyak 131,01 juta orang. Angka itu naik 2,95 juta orang jika dibandingkan dengan Agustus 2017.
Dari 131,01 juta orang itu, yang bekerja tercatat 124,01 juta orang dan yang pengangguran sebanyak 7 juta orang. Jumlah penduduk yang bekerja itu bertambah 2,99 juta orang dari Agustus 2017. Oleh karena itu, jumlah penggangguran berkurang.
"Dalam setahun terakhir, pengangguran berkurang 40 ribu orang," kata Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Jakarta, kemarin.
Dengan demikian, tingkat pengangguran terbuka (TPT) mengalami penurunan dari 5,5% pada Agustus 2017 menjadi 5,34% pada Agustus 2018. "Bagus tingkat pengangguran turun 0,16%, tapi masih ada perbedaan yang tinggi antara kota dan desa," katanya.
Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase penduduk yang bekerja terutama bidang penyediaan akomodasi dan makan minum (0,47% poin), industri pengolahan (0,21% poin), dan transportasi (0,17% poin).
Sementara itu, lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan utamanya sektor pertanian (0,89% poin), jasa lainnya (0,11% poin), dan jasa pendidikan (0,05% poin).
Jika dilihat dari daerah tempat tinggal, TPT di perkotaan tercatat lebih tinggi daripada di perdesaan. Pada Agustus 2018, TPT di perkotaan sebesar 6,45%, sedangkan di perdesaan hanya 4,04%.
Jika dibandingkan dengan setahun lalu, TPT di perkotaan turun sebesar 0,34% poin, sedangkan perdesaan meningkat 0,03% poin. Tenaga kerja di sektor pertanian menjadi penyebab.
"Penyebab utamanya ialah adanya pengurangan tenaga kerja di sektor pertanian. Itu sesuatu yang wajar karena kalau terjadi transformasi ekonomi, jumlah tenaga kerja di pertanian makin lama makin berkurang," jelas Suhariyanto.
Proyek padat karya
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Ari Kuncoro mengatakan terserapnya tenaga kerja disebabkan proyek-proyek padat karya yang dijalankan pemerintah saat ini. Penyerapan tenaga kerja yang meningkat juga menjadi cerminan pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,17%.
"Tenaga kerja yang tumbuh itu cerminan dari meningkatnya elastisitas penciptaan lapangan kerja karena kombinasi dari proyek-proyek yang berkaitan dengan pedesaan dan padat karya. Bahkan, dari turunan-turunan proyek infrastuktur. Dilihat dari strategi pemerintah itu (peningkatan penciptaan lapangan kerja) akan secara alamiah terjadi," kata Ari dihubungi Media Indonesia, kemarin.
Ari menambahkan, ada perubahan pola perputaran ekonomi beberapa tahun belakangan. Menurut catatannya, pada periode 2010-2014 elastisitas penciptaan kesempatan kerja rata-rata naik 0,22% di tiap 1% kenaikan pertumbuhan ekonomi. Pola mulai bergeser di periode 2015-2018, yakni setiap 1% pertumbuhan ekonomi, elastisitas meningkat dua kali lipat menjadi 0,53%.
Pemerintah mengubah cara untuk menarik lebih banyak investasi luar negeri datang ke Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang berimbas pada lebih banyak kesempatan kerja menjadi pancingan bagi swasta dan luar negeri untuk mau berinvestasi di Indonesia. (Aya/E-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved