Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBUTUHAN adanya insentif atau paket-paket kebijakan perumahan untuk generasi milenial dinilai cukup mendesak saat ini. Pemerintah dan industri perbankan mesti memberi perhatian lebih terhadap generasi yang disebut bakal menjadi tulang punggung perekonomian negara itu agar lebih terakomodasi dalam membeli atau memiliki rumah.
Hal itu disampaikan Ketua DPD REI DKI Amran Nukman dalam siaran pers yang diterima, Senin (5/10). "Sampai sekarang kami belum melihat intervensi regulator menyentuh sektor perumahan bagi generasi milenial itu. Padahal ini mendesak. Ini alarm serius yang harus ditindaklanjuti regulator," tegasnya.
Padahal, lanjut dia, jumlah generasi milenial sangat signifikan. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), generasi milenial pada 2020 akan mencapai 35% dari total populasi rakyat Indonesia atau sebanyak 75 juta jiwa. Mereka juga pangsa terbesar angkatan kerja di Indonesia saat ini yang jumlahnya diperkirakan lebih dari 22,5 juta orang.
Namun, di sisi lain, riset juga yang mempublikasikan, akibat harga rumah tidak sebanding dengan pendapatan mereka, generasi milenial terancam tidak bisa memiliki rumah pada 2020.
"Nah, hal itu tentu harus menjadi perhatian pemerintah dan otoritas perbankan. Bagaimana agar ada insentif atau paket-paket kebijakan perumahan untuk mereka," cetus Amran.
Menurut Amran, kebanyakan dari milenial, incomenya sudah di atas Rp 5 juta, sehingga mereka tidak bisa mendapatkan subsidi perumahan yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) . Sementara, untuk membeli rumah komersial dengan harga Rp 300–Rp500 jutaan pun sulit.
Untuk itu Amran mengusulkan, supaya generasi milenial bisa memiliki hunian, mereka sebaiknya diberi fasilitas membeli rumah semi-MBR dengan harga Rp140 juta-Rp500 juta dengan 50% subsidi FLPP. Sementara di sisi pajak, mereka juga diberi keringanan PPN dan PPh.
Besarnya potensi pasar perumahan generasi milenial itu juga diingatkan dalam beberapa kesempatan oleh Ketua Kehormatan REI Lukman Purnomosidi.
Menurutnya, pemerintah harus membuat formulasi, skema-skema pembiayaan baru bagi generasi milenial agar mereka mau dan mampu memiliki rumah sendiri. Lukman berkeyakinan meski anak muda makin sulit membeli rumah, mereka sebetulnya bisa diselamatkan dengan insentif khusus agar bisa membeli rumah dengan rentang harga Rp200 juta hingga Rp500 juta,
"Mereka mampu kok mencicil Rp3 juta hingga Rp6 juta per bulan. Namun, harus diberi insentif supaya aware untuk membeli rumah," imbuhnya.
Lukman berharap segera ada kebijakan di sektor perumahan untuk milenial agar bisa juga mengubah kebiasaan dan gaya hidup konsumtif mereka dan mengalihkan kesadaran akan kebutuhan atas hunian.
Di waktu terpisah, Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata membenarkan
bahwa kelompok milenial berusia 25 hingga 35 tahun dengan rentang penghasilan antara Rp 8 juta hingga Rp 20 juta-an per bulan menjadi target pangsa pasar bagi industri perumahan.
Ia pun setuju pemangku kebijakan dan pelaku usaha pembangunan perumahan harus memikirkan upaya penyediaan fasilitas hunian dengan pola kepemilikan bagi generasi milenial.
Pelaku usaha pengembangan perumahan harus membuat inovasi dengan menyediakan hunian seharga Rp400 jutaan hingga Rp600 juta-an bagi generasi milenial. Hitungannya, rumah seharga itu dapat dibeli dengan cara mencicil KPR sebesar Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan selama 15 tahun. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved