Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Adaro Energy Tbk (ADRO) membukukan laba bersih atau laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, yakni sebesar US $312,70 juta per September 2018 atau kuartal III 2018 . Artinya, ada penurunan US $ 59,75 juta (-16,04%) dari sebelumnya US $ 372,45 juta pada periode sama 2017, dikutip dari laporan keuangan mereka per 30 September 2018.
CEO Adaro Energy Garibaldi Thohir tetap yakin bahwa bisnis pasar batu bara ke depan masih akan memiliki prospek yang positif dan menghasilkan nilai laba yang tinggi. "Kami mencapai hasil yang memuaskan, dengan dukungan kenaikan EBITDA operasional dan laba inti year-over-year sebagai hasil kinerja yang solid di seluruh pilar bisnis perusahaan," kata ujarnya melalui rilis yang diterima, Rabu (31/10).
Per September 2018, beban pokok pendapatan naik menjadi US$1,78 miliar dari sebelumnya US$1,58 miliar. Laba bruto pun terkoreksi menuju US$878,55 juta dari posisi per September 2018 sebesar US$859,43 juta.
Pria yang akrab disapa Boy menyebutkan, kenaikan beban pokok disebabkan peningkatan biaya penambangan seiring dengan penambahan volume pengupasan lapisan penutup. Selain itu, harga bahan bakar minyak memanas, dan pembayaran royalti ke pemerintah meningkat karena kenaikan harga jual rata-rata.
“Untuk mengelola risiko fluktuasi bahan bakar, Adaro telah melakukan lindung nilai sekitar 20% dari total kebutuhan 2018 di harga yang lebih rendah dari anggaran,” tuturnya.
Perusahaan tetap memiliki keyakinan terhadap fundamental pasar batu bara di jangka panjang dan terus mengeksekusi prioritas strategis untuk memastikan penciptaan nilai yang berkelanjutan. “Dan di saat yang sama mempertahankan posisi keuangan yang sehat serta menghasilkan laba yang tinggi,” tandasnya.
Pada periode ini, perusahaan mengalami penurunan nilai kas dan setara kas menjadi US$ 964,77 juta dari posisi akhir tahun lalu yang sebesar US$ 1,20 miliar. Sementara total aset perusahaan bernilai sebesar US$ 7,15 miliar, dengan aset lancar sebesar US$ 1,67 miliar dan aset tak lancar US$ 5,47 miliar.
Posisi liabilitas berjumlah sebesar US$ 2,84 miliar dengan liabilitas jangka pendek bernilai sebesar US$ 926,62 juta dan jangka panjang sebesar US$ 1,91 miliar. Untuk ekuitas berjumlah sebesar US$ 4,30 miliar, naik tipis dari akhir 2017 yang sebesar US$ 4,09 miliar.
Adapun laba inti perusahaan tercatat senilai US$526 juta per September 2018, naik 6% year-on-year(yoy) seiring dengan peningkatan kinerja operasional. Sementara itu pendapatan usaha sejumlah US$2,66 miliar. Nilai itu naik 9,35% yoy dari sebelumnya US$2,44 miliar.
Boy menyebutkan, laba inti ialah laba yang tidak termasuk biaya transaksi transisi non-operasional yang hanya timbul satu kali terkait akuisisi Kestrel, dan tidak mencakup komponen operasional setelah pajak.
Kenaikan produksi didukung oleh kondisi cuaca yang lebih baik. Oleh karena itu, perusahaan berupaya mengejar panduan target produksi batu bara pada 2018 sejumlah 54-56 juta ton.
Sampai dengan sembilan bulan 2018, perusahaan memproduksi batu bara sejumlah 38,98 juta ton, turun 1% yoy dari sebelumnya 39,36 juta ton. Adapun, volume penjualan dalam periode yang sama menurun tipis menjadi 39,27 juta ton dari posisi per September 2017 sebesar 39,44 juta ton.
Boy menambahkan, perusahaan JV Adaro merampung akuisisi tambang Kestrel, Australia, pada awal Agustus 2018. Tambang yang memproduksi hard cooking coal ini memproduksi batu bara sejumlah 1,09 juta ton pada Agustus—September 2018, dan menjual 780.000 ton dalam periode yang sama.
“Pencapaian ini relatif stabil secara yoy karena perusahan mengikuti rencana Kestrel yang ditetapkan awal 2018,” tutup Boy. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved