Pemerintah Berupaya Tekan Defisit

Fetry Wuryasti Fetry
27/10/2018 06:40
Pemerintah Berupaya Tekan Defisit
((Photo by SONNY TUMBELAKA / AFP))

BANK Indonesia memproyeksikan defisit transaksi berjalan (current acount deficit/CAD) akan meningkat pada kuartal III 2018 jika dibandingkan dengan kuartal II 2018, tetapi tidak akan melebihi 3,5% dari produk domestik bruto (PDB).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan wajar jika CAD masih tinggi pada kuartal III 2018 karena terpengaruh oleh defisit perdagangan migas selama periode Juli dan Agustus 2018. Sementara itu, kebijakan pengendalian impor seperti penerapan perluasan biodiesel B20 dan peningkatan tarif pajak penghasilan barang impor baru terlihat pada September 2018. "Meskipun meningkat pada paruh ketiga tahun ini, defisit transaksi berjalan akan menurun pada kuartal IV 2018," ujarnya, di Jakarta, kemarin.

Salah satu faktor menurunnya defisit transaksi berjalan itu, kata Perry, ialah mulai terasanya dampak yang signifikan dari kebijakan pengendalian impor seperti penerapan perluasan penggunaan biodiesel B20 dan peningkatan tarif pajak penghasilan barang. "Sehingga, kami melihat defisit transaksi berjalan masih di bawah 3% dari PDB untuk keseluruhan tahun 2018," tegasnya.

Pada 2019, BI memproyeksi defisit transaksi berjalan kembali turun di kisaran 2,5% terhadap PDB. Dengan membaiknya defisit transaksi berjalan pada paruh terakhir tahun ini, BI memproyeksi laju pertumbuhan ekonomi di rentang 5%-5,4% (yoy) sepanjang tahun.

Menurut Perry, pihaknya terus berupaya menjaga defisit transaksi berjalan agar tetap rendah. Salah satu upaya yang dilakukan ialah menaikkan suku bunga kebijakan. Dampak kebijakan itu, menurutnya, terjadinya aliran dana asing yang masuk pada bulan ini dalam bentuk pembelian surat berharga negara (SBN) senilai Rp9,09 triliun. Selama 2018 (year to date), aliran pembelian SBN tercatat sebesar Rp22,97 triliun.

"Salah satu tujuan penaikan suku bunga daya tarik aset keuangan Indonesia tetap menarik sehingga aliran modal asing masuk. Tentu upaya ini menjadi bagian koordinasi pemerintah untuk menurunkan defisit transaksi berjalan," ujar Perry.

Dia mengatakan nilai tukar yang stabil, serta masuknya modal asing masuk melalui SBN, tentu akan menambah pasokan valas. "Aksi beli ini juga bentuk keyakinan investor terhadap ekonomi Indonesia, baik dari sisi makro dan riil.

Sementara itu, Global Head of Currency Strategy & Market Research FXTM Jameel Ahmad mengatakan momentum penjualan yang terus-menerus di pasar saham global dan ketidakpastian eksternal yang terus berlanjut membuat investor enggan membawa aset mereka ke pasar negara berkembang. Hal itu, menurutnya, ialah faktor utama di balik kelemahan yang terlihat dalam mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. "Kombinasi dari volatilitas pasar global, kekuatan dolar AS, dan ketidakpastian eksternal ialah pil yang sangat sulit bagi pasar negara berkembang untuk menarik banyak investasi dari luar," ujarnya. (E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya