Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KINERJA ekspor Indonesia terus membaik. Pada September 2018 nilai ekspor mencapai US$122 miliar atau sekitar Rp1,9 triliun (kurs 15.000 per dolar AS).
Dengan pencapaian itu, nilai eks-por tumbuh 9,2% jika dibandingkan dengan di periode sama tahun lalu. Presiden Joko Widodo mengemukakan hal itu ketika memberikan sambutan di pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) 2018 di Hall Nusantara Indonesia Convention Exhibition, BSD, Banten, kemarin.
“Kita harus tahu ini. Tumbuh 9,2% artinya semakin tahun ekspor kita semakin baik,” kata Presiden.
Presiden melanjutkan, kendati ada perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok, ternyata banyak sekali peluang yang bisa diraih Indonesia.
“Ini kesempatan yang harus kita pergunakan sebaik mungkin. Saya ingin duta besar dan konjen bekerja keras untuk pasar nontradisional. Asia Selatan, Rusia, Timur Tengah, Afrika, Turki, Pakistan, dan pasar ASEAN, itu peluang besar yang tidak kita urus bertahun-tahun. Saya berharap mulai diperhatikan. Kita urus dengan baik agar ekspor naik sehingga neraca perdagangan kita surplus,” ujar Jokowi.
Menurut Kepala Negara, pada 2017 defisit transaksi berjalan mencapai US$17,3 miliar. Karena itu, Jokowi menyampaikan pentingnya memperbaiki neraca perdagangan dengan cara ekspor yang lebih besar daripada impor.
“Alhamdulillah, September ada titik terang. Neraca perdagangan kita mulai surplus US$220 juta. Saya harap Oktober dan November juga surplus sehingga tahunannya juga surplus,” ujar Presiden.
Jokowi mengingatkan perlunya kita memperbarui desain produk sesuai dengan keinginan pasar, memperbaiki kemasan menjadi menarik, dan yang tidak kalah penting memperhatikan promosi. “Itu penting sekali, baik dalam promosi langsung ke pameran di seluruh dunia maupun lewat online,” ungkap Presiden.
Insentif fiskal
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa untuk menggenjot ekspor, dunia usaha memerlukan insentif fiskal sebagai salah satu instrumen. Namun, yang paling konkret ialah memperkecil pajak pada industri pengolahan barang bertujuan ekspor.
“Ya, pajaknya dikecilin. Sebetulnya kebijakan yang paling cepat ialah insentif fiskal. Ini sudah dilakukan, tetapi kami coba beberapa lagi yang bisa dibicarakan dengan Kementerian Keuangan,” jelas Rosan.
Dalam menanggapi hal itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan pemerintah memang berencana memberikan insentif untuk meningkatkan ekspor sekaligus menekan defisit neraca transaksi berjalan.
“Saya belum tahu insentif yang bisa kita berikan sehingga pabrik, dunia usaha, dan industri terdo-rong masuk ke pasar ekspor,” kata Mendag. Di sisi lain, Enggar menargetkan pencapaian transaksi US$1,5 miliar pada pergelaran TEI 2018, atau lebih besar daripada raihan tahun sebelumnya sebesar US$1,4 miliar.
Selain transaksi langsung, pemerintah juga memproyeksikan kontrak dagang senilai US$5,19 miliar yang terdiri atas transaksi perdagangan US$513,97 juta dan investasi US$4,68 miliar.
“Kami mendorong terciptanya perjanjian kerja sama dengan negara mitra sehingga manfaat perdagangan dapat lebih dirasakan,” ujar Enggar. (Ant/X-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved