Strategi Indonesia Hadapi Turbulensi Ekonomi Global

Syarief Oebaidillah
20/10/2018 21:10
Strategi Indonesia Hadapi Turbulensi Ekonomi Global
(Ist)

DAMPAK perang dagang Amerika Serikat dan China, dari kedua negara raksasa ekonomi dunia tersebut hingga kini telah memicu turbulensi ekonomi global. Dalam kaitan ini, ekonomi Indonesia harus memiliki ketangguhan untuk menghadapi turbulensi tersebut. Stabilitas dan fundamental ekonomi Indonesia harus terjaga dengan baik.

Demikian penjelasan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, Prof Dr Sri Adiningsih MSc mengawali ceramahnya berjudul 'Kekuatan Perekonomian Indonesia di Tengah Turbulensi Ekonomi Global' pada seminar nasional yang diselenggarakan Program Pascasarjana Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) di Kampus II Moestopo, Bintaro, Jakarta, Sabtu (20/10).

Menurut Sri yang telah menjabat Ketua Wantimpres sejak 19 Januari 2015 itu, Indonesia memiliki Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang bertugas menyelenggarakan pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan untuk melaksanakan kepentingan dan ketahanan negara di bidang ekonomi.

KSSK bertugas mengoordinasikan pemantauan stabilitas keuangan, menangani krisis sistem keuangan, dan menangani permasalahan bank sistemik dalam kondisi stabilitas sistem keuangan normal maupun krisis. Anggota KSSK ialah Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan.

Sri menjelaskan bahwa usaha menstabilkan ekonomi dilakukan dari dalam dan luar negeri secara simultan. Dari dalam negeri dilakukan pembangunan infrastruktur yang berbasis memajukan perekonomian rakyat luas, kebutuhan sembako tercukupi, menekan inflasi, fiskal sehat, hutang luar negeri terjaga, dan hutang pemerintah prudent.

Dari luar negeri upaya stabilitas ekonomi dilakukan melalui kemitraan dengan negara-negara seperti China, Singapura, dan Jepang. Kontribusi keuangan Indonesia di Ching Mai Initiative Multilateralized (CMIM) sebesar US$9.104 miliar. Adapun kerja sama Bank Indonesia dan Otoritas Moneter Singapura dalam bentuk repo dan local currency swap senilai US$10 miliar. Kesepakatan Bank Indonesia dengan Bank Sentral Jepang dalam bentuk amendemen perjanjian kerja sama Bilateral Swap Agreement (BSA) dengan nilai fasilitas swap sebesar US$22,76 miliar.

Sri menambahkan, hasil usaha menstabilkan kondisi ekonomi dan sosial nasional antara lain, pertama, Pertumbuhan Produk Domestik Bruto pada posisi 5-10% di atas Turki, Thailand, Malaysia, Singapura, dan di bawah India, Vietnam, China, Filipina.

"Kedua, Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia tumbuh dari US$585 (1990) ke US$3.847 (2017) di atas Filipina. Ketiga, Gross Domestic Product per Capita on Purchasing Power Parity dari di atas 1 (1990) hingga mencapai 15.000 (2018) di bawah China. Keempat, Pengangguran dari 11,24 juta (2005) menurun hingga 5,13 juta (Februari 2018). Kelima, angka kemiskinan dari 40 juta (1970) menurun menjadi 9,82 Juta (Maret 2018)," kata Sri mengutip sumber CEIC dan BPS 2018.

Menutup ceramahnya, Sri menyatakan dengan penjelasan bahwa lebih penting dari pada keberhasilan menghadapi turbulensi ekonomi global, ialah menghentikan sumber turbulensi itu sendiri.

Dia mengutarakan bahwa Presiden Joko Widodo mengemukakan hal itu dalam Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018. Di forum itu, Jokowi mengatakan hubungan antarnegara-negara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat seperti 'Game of Thrones'.

Pidato tersebut dengan sangat keras menyindir negara-negara adikuasa tetapi disampaikan dengan gaya yang enak didengar. Disebutkan, dalam serial Game of Thrones, sejumlah Great Houses, Great Families bertarung hebat antara satu sama lain, untuk mengambil alih kendali 'The Iron Throne'. Siapa pun yang menang, perang adalah petaka yang selalu menimbulkan banyak korban, kesengsaraan, dan kesedihan.

"Mudah-mudahan pidato Presiden itu dapat menyentuh hati para pemimpin dunia," cetusnya.

Hadir dalam seminar jajaran Universitas Moestopo antara lain Rektor Prof Dr Rudy Harjanto, Pembina Yayasan Prof Dr Thomas Suyatno,  Staf Ahli Pembina Yayasan Prof Dr Sunarto MSi, Prof Dr Paiman Raharjo MSi, Kepala Pusat Penjaminan Mutu Prof Dr Himsar Silaban, Warek III Dr Bambang Winarso MSc, Dekan FKG Prof Dr drg Budiharto SKM, dan Guru Besar Pascasarjana Prof Dr Abdullah.

Saat membuka seminar, Rektor Universitas Moestopo Rudy Harjanto berharap para mahasiswa dapat memetik manfaat ceramah dari sosok pejabat negara sekaligus guru besar perguruan tinggi terkemuka yang menyampaikan penjelasan mengenai kondisi ekonomi nasional dalam badai turbulensi global.

"Tentu ini kesempatan langka bagi kita untuk mendapat penjelasan yang memberikan pencerahan sekaligus membawa manfaat ilmiah," pungkas Rudy. (RO/OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya