Asumsi Nilai Tukar Rupiah dalam RAPBN 2019 Ditetapkan Rp 15.000 per dolar AS

Nur Aivanni
16/10/2018 19:15
Asumsi Nilai Tukar Rupiah dalam RAPBN 2019 Ditetapkan Rp 15.000 per dolar AS
(ANTARA)

PEMERINTAH bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI menyepakati asumsi nilai tukar Rupiah dalam RAPBN 2019 sebesar Rp 15.000 per dolar AS. Hal itu sebagaimana hasil rapat kerja Banggar bersama pemerintah yang membahas RUU APBN Tahun 2019.

"Kita sudah menyetujui asumsi dasar ekonomi makro 2019," kata Wakil Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah usai mengetok palu atas persetujuan para anggota Banggar, di Ruang Banggar, Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (16/10).

Selain nilai tukar Rupiah, asumsi dasar ekonomi makro 2019 lainnya yang telah disepakati adalah pertumbuhan ekonomi 5,3%, inflasi 3,5%, dan tingkat bunga SPN 3 bulan 5,3%. Selain itu, harga minyak mentah Indonesia USD 70/barel, lifting minyak 775 ribu barel per hari, lifting gas 1.250 ribu barel per hari dan cost recovery USD 10,22 miliar.

Untuk diketahui, sebelumnya nilai tukar Rupiah telah disepakati di angka Rp 14.500 per dolar AS dalam Panja A. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun menjabarkan bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai tukar di tahun 2019.

Ia mengatakan bahwa nilai tukar Rupiah tahun 2018 diproyeksikan mencapai kisaran Rp 15.000 per dolar AS. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah pun diperkirakan masih akan berlanjut. Nilai tukar Rupiah, sambungnya, masih akan bergerak dengan pengaruh dari faktor yang mendorong pelemahan Rupiah dan penguatan Rupiah.

Faktor yang mendorong pelemahan Rupiah, yaitu potensi kenaikan defisit fiskal, utang AS serta Yield Surat Utang AS. Selain itu, tekanan dari perang dagang yang masih akan berlangsung, proyeksi tekanan suku bunga dengan kenaikan suku bunga acuan The Fed dan perkembangan kerjasama AS dengan NAFTA menjadi faktor yang akan mendorong Rupiah melemah.

Sementara itu, faktor yang mendorong penguatan Rupiah, antara lain peningkatan harga komoditas ekspor Indonesia, dampak kebijakan pengendalian impor nasional dan transaksi berjalan yang diproyeksikan masih mengalami defisit dengan tren menurun jika dibandingkan tahun 2018. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya